Starting Over Bahasa Indonesia – First Half

Translator : iNapoleon
Proof-Reader: Temen-temen Kuliah

Note:

Proyek ‘Starting Over’ berkolaborasi sama Baka-Tsuki. Dan kebetulan saya kebagian first-halfnya. Jadi buat setengah bagian terakhir bakal digarap mereka.


 

“Sudah terlalu lama sejak kita menghabiskan waktu

Tidak ada yang harus disalahkan, aku tahu waktu berlalu begitu cepat

Tapi saat aku melihatmu sayang

Seperti kita berdua jatuh cinta lagi

Ini seperti mulai lagi dari awal, mulai dari awal”

 – (Just Like) Starting Over, John Lenon

 

Inilah adalah kisah bagaimana aku mencapai ulang tahunku yang kedua puluh, aku dikirim kembali ke usia sepuluh tahun, dan hidup sampai dua puluh tahun sekali lagi.

 

* 1 *

 

Kisah yang akan aku ceritakan bisa bertentangan dengan harapanmu.

 

Lagi pula, kau mungkin akan percaya bahwa, jika seseorang memiliki kesempatan untuk dikirim kembali ke usia sepuluh tahun bersama kenangan mereka sampai usia dua puluh tahun, mereka akan memanfaatkan pengetahuan mereka dengan baik dan bisa mengubah segala macam hal.

 

Setiap orang memiliki penyesalan itu, pikiran seperti “Seandainya saja aku melakukannya seperti ini.”

 

Bagi mereka yang ingin mereka pelajari lebih banyak, ada orang lain yang berharap mereka bisa bermain lebih banyak. 

 

Bagi mereka yang berharap mereka lebih jujur ​​tentang siapa mereka, ada orang lain yang berharap mereka lebih banyak mendengarkan orang lain.

 

Bagi mereka yang berharap bisa mendekati seseorang lebih cepat, ada orang lain yang berharap mereka tidak berhubungan dengan seseorang.

 

Bagi mereka yang ingin membuat keputusan yang lebih hati-hati, ada orang lain yang berharap mereka mengambil risiko lebih besar.

 

Saat aku masih kecil, aku pernah berbicara dengan seorang gelandagan di bawah jembatan selama sekitar satu jam.

 

Dia adalah seorang ceria yang tertawa bersama seluruh tubuhnya. Penyesalan adalah hal yang sepertinya tidak cocok dengan pria itu, namun ada satu hal yang tidak bisa dia selesaikan lagi.

“Dalam lima puluh tahun ini,” kata pria itu, “satu-satunya kesalahan yang pernah aku buat adalah lahir ke dunia ini.”

Jadi, bahkan lahir ke dunia pun bisa jadi sebuah penyesalan.

 

Baiklah. Yang ingin aku katakan di sini adalah, hidup yang dipenuhi dengan penyesalan. Aku yakin kau bisa berempati dengan itu sendiri.

Dan jika kau bisa memulai hidupmu, tak diragukan lagi dia akan menggunakan refleksi diri, pelajaran, dan kenangan mereka untuk melakukan langkah kedua yang lebih baik.

Karena mereka tahu penyesalan itu terbentang di depan mereka.

 

Tapi ketika sampai pada pengalamanku, yah, justru sebaliknya.

Memikirkannya sekarang, aku melakukan hal yang benar-benar bodoh. Aku benar-benar melakukan hal yang bodoh.

 

* 2 *

 

Ketika aku menyadari bahwa hidupku sudah mundur satu dekade, aku memiliki sebuah pemikiran :

“Bicara soal yang tidak perlu.”

 

Anggap saja kita punya pria yang tidak memiliki sedikit penyesalan tentang hidupnya.

Sekarang orang itu bisa banyak bahagia, kalau tidak dia pasti adalah orang yang tolol.

Dia bisa saja menjalani kehidupan yang begitu sempurna sehingga tidak ada yang perlu direnungkan, atau dia hanya bisa menguras otak untuk memikirkan sesuatu.

 

Memang, aku berbicara untuk diriku sendiri, tapi aku adalah orang yang sebelumnya. Adalah orang yang bahagia.

 

Aku sangat senang dengan apa yang aku sebut hidup. Memang benar, aku sama sekali tidak punya masalah.

Punya pacar terbaik yang bisa aku minta, teman baik, keluarga yang sempurna, dan kuliah di universitas yang layak. Tidak ada yang kurang, dalam pikiranku.

 

Maksudku, aku kira ada sebuah fakta kalau aku sangat bersenang-senang karena hanya tidur enam jam sehari, yang membuat sakit kepala sesekali.

Karena aku tahu aku selalu bisa bangun dengan hal-hal yang baik, aku selalu ingin tetap terjaga sedikit lebih lama. Tidur adalah hanya sesuatu hilang dalam hidup.

 

Dan bagiku, yang sangat senang dengan hidupnya, kesempatan untuk menghidupkan kembali hidupku sepertinya lebih merepotkan dibanding apa pun.

Sangat disayangkan, pikirku  merasa seharusnya ini diberikan pada seseorang yang sedikit putus asa tentang hidup mereka.

Pastinya ada banyak orang yang tidak keberatan hidup di usia sepuluh sampai dua puluh tahun lagi.

 

Kesempatan sepertinya selalu jatuh pada orang-orang yang tidak mencarinya. Tuhan hanyalah seorang prankster.

Menghidupkan TV, dan kau akan langsung tahu dari orang-orang yang kau lihat kalau “Tuhan tidak memberi dengan kedua tangan-Nya” [1] adalah satu kebohongan besar.

Mungkin aku hanya meminta hukuman di sini, tapi Tuhan tidak punya pengertian tentang “persamaan.”

 

Bagaimanapun, melihat salah satu lelucon kejam Tuhan dengan mataku sendiri membuatku memikirkan semua hal itu.

Intinya, aku merasa puas dengan kehidupan pertamaku, dan aku tidak berminat melakukannya untuk kedua kalinya…

Jadi aku pikir, hei, mungkin sebaiknya aku melakukan semuanya sama untuk kedua kalinya.

Itulah idenya.

 

Aku kira aku sedikit lelucon sendiri, mengambil lelucon Tuhan dan agak membuatnya menjadi bumerang.

Perbaiki kesalahan itu dan lupakan kesempatan dalam kehidupan pertamaku? Nah, aku akan memilikinya semuanya bermain sama.

Aku telah memutuskan untuk membuat rewind sepuluh tahun itu tidak ada artinya.

 

Aku tahu dalam benakku semua kecelakaan dan bencana, krisis dan perubahan yang akan terjadi, tapi aku tetap tutup mulut.

Lagi pula, begitu aku mulai membicarakan hal itu, aku tidak akan tahu kapan harus berhenti.

Lagi pula, sudah banyak orang gila di luar sana yang mengklaim mereka berasal dari masa depan dan tahu apa yang akan terjadi, jadi tidak mungkin ada orang yang bisa menemuiku lagi.

Aku akan menjalani sisa hidupku di rumah sakit jiwa jika aku pergi ke arah itu.

 

Tentu saja, aku kira memilih untuk tidak menyelamatkan orang-orang yang bisa diselamatkan bukanlah sesuatu yang seharusnya kalau lakukan dengan benar.

Tapi sejujurnya, tidak ada orang di luar sana yang cukup aku minati untuk mempertimbangkan mengorbankan kebahagiaanku sendiri.

Ya, beberapa orang rela melakukan pengorbanan semacam itu. Tapi mereka hanya melakukannya karena kepuasan yang mereka dapatkan dari tindakan melebihi apa yang mereka kehilangan, itu saja. Jadi tidak berbeda dengan mengutamakan kebahagiaan kau sendiri.

 

Bagian yang penting adalah apa yang membawa kebahagiaan paling besar bagimu. Dan bagiku, kebahagiaan adalah “tidak ada yang berubah.”

Jadi, aku benar-benar akan memberlakukan kembali kehidupan pertamaku. Itu saja yang kuinginkan dari kehidupanku yang kedua ini.

 

Aku bertaruh seorang penyelam waktu bahkan tidak menginginkan kalau kejadian ini sangat langka.

Rasanya aku harus diberi ucapan selamat.

 

* 3 *

 

Percobaan kedua kehidupanku dimulai tepat pada hari Natal saat aku berusia sepuluh tahun.

 

Apa yang memberikanku petunjuk adalah tas kertas dengan Super Nintendo di samping tempat tidurku.

Yang diriku yang berusia sepuluh tahun sangat inginkan.

 

“Super Nintendo.” Mendengarnya sekarang, ini adalah nama yang sangat bodoh. Tapi saat itu, itu adalah mainan terbaik.

Ketika aku pertama kali melihatnya di rumah seorang teman, aku terkejut, semua seperti, “Apakah benar sesuatu yang menyenangkan seperti ini ada?”

Aku begitu terpaku di layar, aku bahkan tidak menyentuh permen yang mereka bawa.

 

Games cukup mahal saat itu, tapi ulang tahunku jatuh pada tanggal 24 Desember, Malam Natal.

Hadiah ulang tahun dan natalku disatukan, jadi aku membeli beberapa barang yang cukup mahal.

 

Aku mengosongkan kantong kertas itu ke tempat tidurku. Sistem abu-abu kusam itu sendiri. Tombol merah, biru, kuning, dan hijau pada stick-nya. Man, ini adalah hari-harinya.

Lupakan pemikiran tentang berenang di atas sungai waktu ini, aku ingin memainkannya. Game lama selalu memiliki pesona mereka sendiri.

Mereka terbatas pada metode sederhana dengan penyimpanan yang terbatas, tapi itulah yang membuat game-nya lebih efektif secara keseluruhan.

 

Tas kertas yang ada game di dalamnya, juga. Ah, tentu saja. Sistemnya tidak berharga tanpa itu.

… Tapi, kau tahu, aku harus tertawa. Karena permainan yang dimaksud adalah tentang perjalanan waktu, mondar-mandir antara masa lalu dan masa depan.

Meminjam sebuah istilah dari permainan tersebut, hidupku diberi sebuah New Game Tambahan: yaitu membawa kenangan dan kemampuan dari permainan sebelumnya untuk melakukan semuanya sekali lagi.

Dan apa deskripsi yang lebih cocok untuk apa yang terjadi sekarang.

 

* 4 *

 

Sekarang, setelah sampai di titik ini kau mungkin mengemis untuk mengetahuinya. Bagaimana aku tiba-tiba dikirim kembali pada waktu di usia dua puluh tahun? Dan bagaimana dengan paradoks waktu? Dan semua omong kosong fiksi ilmiah semacam itu.

Yah, jujur saja, aku tidak memiliki sedikit minat tentang hal semacam itu. Lihat, kau bisa membuat semua teori ini, tapi aku tidak punya alat untuk membuktikan atau menyanggahnya.

Sejauh logika berjalan, apa yang terjadi padaku adalah, yah, sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Rasanya seperti dua ditambah dua sama dengan lima. Seperti penguasaan dirimu sendiri sudah tidak berjalan dengan semestinya, kurasa.

 

Salah satu kemungkinannya adalah bahwa aku sudah menjadi gilapada dasarnya, bahwa diriku yang berusia sepuluh tahun  tiba-tiba mulai berhalusinasi sehingga dia mendapatkan kebijaksanaan dari temannya yang berusia dua puluh tahun, sebagai akibat dari anak berusia dua puluh tahun aku dikirim kembali. pada waktunya.

Tapi sejujurnya, aku sangat waras. Maksudku, apa gunanya bertanya-tanya apakah kau sudah gila? Orang yang benar-benar gila tidak pernah menyadari bahwa mereka gila.

 

Satu-satunya hal yang perlu perhatianku adalah “apa yang harus dilakukan selanjutnya,” dan tidak ada yang lain.

Bisakah aku menjalani hidup bahagia dari situasi seperti ini? Hanya itu yang perlu aku pertimbangkan.

 

* 5 *

 

Aku menyeka uap air dari jendela dengan lengan piyama.

Keadaannya  masih redup di luar, tapi pemkaungan kota tertutup salju yang tak terputus.

Dari bagaimana langit tampak, seharusnya agak dingin, tapi tubuh mudaku terasa hangat. Tubuh anak-anak memang sangat hebat.

 

Sekarang masih dini hari, jadi tidak ada orang di luar, juga tidak ada suara.

Bahkan semua hal yang bergerak di luar sana hanya salju, yang melayang turun dengan ritme tetap.

Itu membuat napasku sendiri dan gemerisik pakaianku tampak luar biasa lebih keras.

 

Saat mengaduk-aduk tasku, aku membangunkan adik perempuanku yang tidur di ranjang bawah, dan kudengar dia merangkak keluar dari bawah selimut.

Aku meraih bingkai tempat tidur dan mengintip adikku yang masih berumur tujuh tahun.

Dengan mengantuk, dia berpaling ke beruang teddy di samping tempat tidur dan berteriak “Yaaay!” Dengan sedikit jeda.

 

Rambut panjang yang seperti sutra yang dipernis, mulut bulat, mata yang besar dengan sentuhan warna yang cerah.

Oh ya, adikku biasa terlihat seperti ini, pikirku dengan nostalgia. Selalu berjalan beberapa meter di belakangku, sambil berkata “Onii-chan, Onii-chan!”

Terkadang, aku akan mengatakan ini saat dia terlihat manis. Tentu saja, dia masih merupakan adik perempuan yang hebat sepuluh tahun kemudian, itu tidak berubah.

Tapi masalahnya, saat dia bertambah tua, dia tidak perlu lagi mengandalkanku. Bagus untuknya, namun membuatmu  bertanya-tanya apakah adik perempuanmu bisa menjadi terlalu cakap.

 

Aku turun dari tempat tidur ke karpet dan duduk di tempat tidur adik perempuanku.

Saat dia duduk terpesona dengan boneka beruangnya, aku berkata kepadanya “Hei.”

 

“Kakakmu sudah kembali dari sepuluh tahun di masa depan.”

 

Masih mengantuk, dia tertawa “Selamat datang!”

Aku sedikit menyukai respon itu dan berkata “Senang bisa kembali,” mengemerisikan kepalanya.

Adikku tetap menjadi adik perempuanku, dia menunduk, tersenyum tanpa kata, dan melakukan hal yang sama dengan beruang teddy nya.

Aku tidak melakukan hal seperti ini pada usia sepuluh tahun, jadi mungkin baru kali ini aku melakukannya. Jadi aku bertanya-tanya bagaimana aku harus menanggapinya.

 

Aku ingin membuka hatiku kepada seseorang tentang rencana brilian yang aku rencanakan.

Aku hanya merasa gatal ingin seseorang untuk mendengar ide anehku, aku berani untuk menjalankan kembali kehidupan pertamaku. Dan adikku sepertinya memilih yang baik untuk itu.

Dia kecil dan tidak mengerti apa yang kukatakan padanya, dan dia akan segera melupakan semuanya.

 

Aku mengatakan ini pada adikku, yang duduk di hadapanku dengan boneka beruang teddy di pangkuannya.

 

“Aku tahu kesalahan yang akan aku buat, dan aku tahu apa yang harus aku lakukan. Katakan yang sebenarnya, mulai saat ini aku bisa menjadi anak ajaib, atau menjadi orang yang super kaya. Aku bahkan bisa menjadi seorang nabi atau mesias[2].

 

“… Tapi kau tahu, aku tidak ingin mengubah apapun. Tidak apa-apa kalau aku bisa menjalani kehidupan yang sama seperti sebelumnya. ”

 

Dia menatapku tanpa pkaung mata, memegang boneka beruangnya.

“Aku engga ngerti,” jawabnya dengan jujur.

 

“Kurasa kau tidak akan mengerti,” kataku.

 

 

* 6 *

 

Inilah kisah bagaimana aku mencapai ulang tahunku yang kedua puluh, aku dikirim kembali ke usia sepuluh tahun, dan hidup sampai usia dua puluh tahun sekali lagi.

 

 

* 7 *

 

Hal pertama yang ingin aku hindari adalah: aku tidak berkompromi dalam rekreasiku saat pertama kali.

Jujur, ini adalah jalan yang sulit,. Mengambil pelajaran untuk anak berusia sepuluh tahun dengan kecerdasan diriku yang berusia dua puluh dan memiliki percakapan yang sesuai dengan anak seusiaku lebih sulit daripada yang kau bayangkan.

Sungguh melelahkan. Terasa seperti aku akan menjadi gila saat di kelas suatu hari nanti.

Mungkin ini bukanlah cara terbaik untuk mengungkapkannya, tapi aku yakin begitulah rasanya menjadi orang waras yang dilempar ke rumah sakit jiwa.

 

Akan tetapi, aku serius dengan semua yang aku lakukan, tidak mengambil jalan pintas.

Semua orang sangat membutuhkan pusat perhatian dari waktu ke waktu, jadi tentu saja aku terdesak untuk menjawab pertanyaan yang tidak diketahui oleh siapa pun di kelas, atau keberatan dengan omong kosong yang tidak masuk akal yang dikatakan guru tersebut. Aku tidak akan menyangkalnya.

Semua kontrol diri ini tidak bisa baik untuk tubuh; itu cukup menegangkan menolak dorongan tersebut.

 

Tapi tentu saja itu tidak semuanya buruk. Tidak ada yang lebih baik yang bisa ditawarkan dunia daripada kemewahan melihat dunia melalui mata seorang anak-anak.

Bisa dibilang, aku masih berteman dengan dunia saat itu. Pohon-pohon, burung-burung, angin, semuanya terbuka untukku. Dan itu tidak begitu buruk.

 

Tentu saja aku pernah melihat semua ini sebelumnya, namun sepertinya semuanya baru, jadi ini adalah pengalaman yang hebat.

Aku penasan apa sebenarnya itu. Mungkin ingatanku sudah rusak dalam perjalanan pulang. Atau mungkin mereka dikompres untuk ruang menjadi sesuatu yang kurang rinci, lebih abstrak.

 

Sebagai contoh, mari kita ingatkan ini: “Langit berbintang pada hari kami berkemah di danau selama musim panas ketika aku berumur dua belas tahun.”

Jika aku mencoba mengingatnya, aku akan berpikir “Bintang-bintang itu tak terhitung banyaknya dan indah, dan ada juga beberapa bintang jatuh.”

Itulah yang secara alami aku ingat, tapi tidak ada jejak pemkaungan fisik yang muncul dalam pikiranku.

Aku tidak ingat apa danau atau tempat perkemahan itu namanya. Aku hanya ingat “danau” dan “perkemahan”.

 

Bahkan jika aku mencoba mengingat lebih dalam, terkadang aku tidak bisa lagi menjelaskan lebih detail.

Begitulah bagaimana kenangan bekerja untuk memulai, tentu saja, tapi tampaknya lebih menonjol dalam lingkaran kehidupan keduaku.

 

Jadi karena itu, aku memilih untuk tidak menyia-nyiakan pengalaman bergerak tersebut.

Atau mungkin aku harus mengatakannya, dengan sedikit pengetahuan tentang apa yang akan terjadi, aku bisa bersiap, dan akan memanfaatkan kesempatan untuk menikmatinya setiap saat.

Mungkin kau bisa mengatakan itu seperti membaca buku yang hanya membaca ringkasan dari yang sebelumnya kau tulis.

 

Tapi dengan samar-samar ingatanku tentang sepuluh tahun yang lalu, aku yakin ada hal-hal yang baru saja aku sudah lupakan.

Tetap saja, aku berencana untuk melakukan apa yang aku bisa untuk menciptakan kembali kehidupan pertamaku.

 

Dengan menggunakan ingatanku yang terbatas untuk menjelaskan situasinya, aku membuat pilihan yang paling terasa “alami”.

Itu bukan hal yang mudah dilakukan, tapi aku telah mengirimkan semua keraguan tentang menggunakan keuntungaku untuk memperbaiki hidupku lebih jauh.

Aku mencintai segala hal tentang kehidupan pertamaku, dan aku terikat untuk mempertahankannya. Apapun yang terjadi, aku tidak ingin hal itu dibatalkan.

 

Tapi seperti yang mereka katakan, sesuatu yang sekecil akup kupu-kupu bisa membawa perubahan drastis.

 

Lima tahun ke babak kedua, hidupku mulai membelok dari jalan yang pertama secara signifikan.

 

* 8 *

 

Aku tidak begitu yakin harus mulai dari mana. Setiap hal kecil akhirnya berbeda.

Maksudku, aku benar-benar tidak bisa memberi tahumu. Jika kau membandingkan keduanya dan bertanya kepadaku “Apa yang beda dari mereka?”, aku tidak tahu bagaimana menjawabnya.

 

Kau perlu memiliki beberapa poin umum untuk membandingkan dan kontrasnya. Kau tidak bisa hanya meminta seseorang untuk menjelaskan perbedaan antara komidi putar dan pensil, bukan?

Tapi bisa dikatakan, aku hancur. Jauh lebih buruk dari yang pernah aku bayangkan mengingat kehidupan pertamaku.

 

Memberi sedikit contoh, mari kita lihat. Aku dibully oleh teman-temanku sejak kehidupan pertamaku, aku banyak ditolak oleh pacarku sejak kehidupan pertamaku, dan aku gagal lolos ujian SMA yang aku ikuti dalam kehidupan pertamaku … dan seterusnya.

Aku yakin kau sangat ingin tahu apa perubahan di hatiku atau apa pun yang menyebabkan terjadinya error semacam itu. Tapi aku tidak ingin membicarakannya, setidaknya tidak sekarang.

 

Pada dasarnya, aku bukan tipe yang mengerang tentang kekhawatirannya.

Siapa saja yang suka mendengar hal semacam itu pasti seseorang yang mencintai penderitaan orang lain lebih baik daripada makan tiga persegi, beberapa jenis penggosip yang benar-benar menggosok.

Dan cerita ini bukan untuk mereka. Jadi mari kita rangkum sedikit yang menarik.

 

Kurasa aku akan mengatakannya seperti ini. Dalam hidupku yang kedua, lingkaran setan telah menciptakan dirinya sendiri dari udara yang tipis.

Salah satu sedikit kemalangan menyebabkan sedikit kemalangan, dan itu menyebabkan yang ketiga. Begitu ada bengkokan kecil di roda gigi, dan yang lain akan macet pula.

Dan pada akhirnya, roda gigi itu terlepas. Aku pikir itu cara yang baik untuk menjelaskan apa yang terjadi.

Itu adalah temanku yang mengatakannya seperti itu dulu.

 

Aku adalah seorang pria yang selalu bisa dibilang “jatuh entah ke mana,”. Aku memiliki potensi untuk sukses yang besar, tapi aku juga berpotensi mengalami kegagalan yang besar.

Semakin aku memikirkannya, aku menyadari itu bukan sesuatu yang eksklusif bagiku.

 

 

 

* 9 *

 

Ada banyak penyebab yang saling terkait yang bisa aku tunjuk, tapi yang akan aku sebut paling menentukan adalah seberapa mudah gadis yang seharusnya menjadi pacarku menolakku.

Ketika aku menembaknyayang aku yakin seratus persen akan berhasildibom, yah, tidak sulit membayangkan kekecewaanku.

 

Menurut ingatanku, “gadis itu” selalu memiliki mata mengantuk, tapi itu hanya terlihat seperti itu karena bulu matanya yang panjang.

Ketika dia tampak tidak terhubung, roda gigi sebenarnya selalu berputar di kepalanya … Itulah yang menjadi “pacar masa depanku”.

Kenangan tentang dirinya adalah beberapa ingatan yang paling jelas. Mungkin kenangan memiliki hierarki, di mana yang paling tinggi prioritasnya membuat kenangan yang paling nyata. Ya, aku rasa itulah yang namanya kenangan.

 

Bagaimanapun, dia tampak seperti gadis yang akan membuatku jatuh cinta. Aku tidak pernah sangat tertarik pada seorang gadis hanya karena dia pintar, tapi kurasa aku lembut untuk “terlihat seperti sedang melamun, tapi selalu kepalanya lurus.”

Kesukaan seperti itu seperti kelainan … Nah, jika kau membandingkannya dengan bagaimana aku memilih temanku, ini adalah hal yang lebih murni dan berbasis perasaan, memang. Bukan sesuatu yang ingin aku lakukan sepanjang waktu.

 

Sepertinya aku ingat bahwa dalam kehidupan pertamaku, aku menembaknya di musim semi, tahun ketiga masa SMP-ku.

Dan jawabannya adalah seperti “Terima kasih, aku sudah menunggu lama sekali,” sambil setengah menangis. Dan dalam lima tahun setelah itu, kami kurang lebih tidak terpisahkan.

 

Begitulah seharusnya yang kedua kalinya juga.

Ya … seharusnya begitu.

 

 

* 10 *

 

Di musim gugur, di tahun kedua SMP-ku, malam sebelum festival budaya, saat kelas menyelesaikan semua persiapan presentasi mereka, aku ingat bahwa hari ini sangat penting dalam hidupku.

Kami diizinkan untuk tinggal di sekolah sampai jam 9 malam satu itu, jadi semua murid segera menyelesaikan pekerjaannya pagi-pagi agar kami bisa bersenang-senang.

 

Mungkin sedikit setelah jam 6 sore. Saat aku menerobos ke berkau luar, aku melihat teman sekelasku membuat properti dan berlatih di kelas.

Tiba-tiba, tak ada angin maupun hujan, hatiku dipenuhi dengan perasaan bahagia.

Saat aku memikirkan penyebabnya, aku menyadari penyebabnya adalah gadis yang akan segera menjadi tak tergantikan.

Aku ingat bahwa ini adalah harinya. Sepertinya hari ini adalah saat aku mulai jatuh cinta.

 

Seperti biasa, aku tidak tahu siapa gadis yang menentukan itu, tapi aku berseri-seri kalau hari ini akan membawa dorongan untuk jatuh cinta pada orang yang akan menjadi pacarku.

 

Dengan begitu, aku terjebak di sekitar kelas selarut yang aku bisa hari itu untuk bertemu dengannya.

Tepat jam sembilan, saat aku tidak tahan menunggu lebih lama lagi, teman sekelasku angkat bicara.

“Hei, bisakah seseorang membawa ini ke gedung olahraga?”

Aku secara intuitif menerimanya ditempat, dan membawa beberapa properti. Di antara properti itu ada sebuah topi merah Santa.

 

Aku pasti bersedia membawanya sendiri, tapi dari sudut ruangan terdengar suara: “Tunggu, aku akan membantumu!”

Aku melihat ke arah pemilik suaranya. Orang itu adalah Tsugumi yang datang berlari ke arahku.

 

“Seperti dugaanku,” pikirku.

Mata mengantuk, bulu mata panjang, selalu berpikir. Seperti yang aku katakan, aku sudah mencari seorang gadis dengan karakteristik itu, dan menemukan beberapa, tapi Tsugumi sangat cocok dengan semua karakteristiknya.

Aku bahkan sudah menkauinya sebagai orang yang akan menjadi pacar masa depanku beberapa waktu yang lalu. Dan aku menyadari kalau dugaanku tepat.

 

Dengan pacar masa depanku di depanku, aku hampir menari-nari di lorong saat aku bercanda dengan Tsugumi, yang sedang mengenakan topi Santa.

Dia tersenyum di sudut mulutnya, mengambil beberapa tanduk rusa dari antara alat peraga yang kami bawa, dan memakaikannya padaku.

 

Lampu sudah padam di gedung olahraga, jadi semuanya gelap gulita. Setelah kami meletakkan alat peraga di belakang panggung, Tsugumi menatapku dan tersenyum licik.

“Hei, kalau kita kembali ke kelas sekarang, kita pasti harus lebih banyak bekerja. Jadi ayo kita istirahat sebentar. ”

Tentu saja aku setuju.

 

Kami akhirnya pulang bersama malam itu. Kami berdua tampak sedih saat saling berpisah, jadi kami berbicara sekitar satu jam lebih di bangku taman.

Di sinilah bagian terbaik dari hidupku dimulai, pikirku. Aku pusing karena saking senangnya.

 

Aku akan mengulang semuanya sama seperti dalam kehidupan pertamaku. Itulah yang kupicirkan.

Kecuali, yah … apa yang terjadi di musim semi, di tahun ketiga SMP-ku.

 

Seperti dalam kehidupan pertamaku, sepulang sekolah, saat kita menjadi satu-satunya di kelas, aku menembak Tsugumi.

Aku siap untuk merasa bahagia, dan agar dia bahagia, dan untuk semua itu.

Tapi dia hanya tampak khawatir dan berkata “Umm …”, seolah berusaha tersenyum.

Beberapa hari kemudian, akhirnya dia menolakku. Tapi mungkin masalahnya adalah aku terlalu percaya diri.

 

Pengakuanku, di kehidupan pertamaku, bisa dibilang terlalu tergesa-gesa dan teralu banyak ketegangan.

Mungkin keputusasaan aku berhasil memindahkannya, dan mengubah sebuah pengakuan yang biasanya tidak akan memenangkannya menjadi orang yang melakukannya.

Kedua kalinya, aku bertingkah lebih seperti “Hei, kamu sudah menunggu, kan? Kupikir aku sudah menembakmu.” Tidak mengherankan jika hal itu membuat dia tidak enak.

 

Aku bisa memikirkan sejumlah penyebab lain, tentu saja. Tapi aku gagal menjadikannya pacarku. Itulah yang paling penting.

 

 

* 11 *

 

Setelah itu, oh, itu mengerikan. Aku tidak akan pernah membayangkan apa pengaruh bagus yang dimiliki pacarku di kehidupan pertamaku.

Setelah kehilangan “dewi kebahagiaan”-ku untuk kehidupan keduaku, aku sama tidak berdaya seperti kantung plastik dalam badai.

 

Untuk bulan pertama, aku ingin percaya bahwa ini adalah semacam kesalahan. Tsugumi pasti punya alasan untuk berbohong padaku.

Aku sungguh percaya bahwa kelak, dia datang untuk memberitahuku “Aku minta maaf karena sudah berbohong. Ada keadaan dalam yang membuatku tidak bisa menerima perasaanmu hari itu, tapi sebenarnya, aku mencintaimu. ”

Tapi lima puluh hari berlalu sejak aku menembaknya, dan bahkan akun pun tidak bisa mempercayainya lagi. Sudah terlambat bagi dia untuk menarik ucapannya kembali.

 

Sepertinya tidak peduli seberapa keras aku mencoba, menciptakan masa lalu itu tidak mungkin sejak awal.

Kenapa? jika aku tahu ini akan terjadi, seharusnya aku menjadi seorang nabi.

Tapi semuanya sudah terlambat sekarang. Lima tahun telah berlalu sejak aku berenang ke hulu, dan usia mental dan fisikku sudah banyak disesuaikan.

 

Pada topik yang terkait, sebuah kehidupan tanpa Tsugumi begitu sulit ditanggung sehingga aku berhenti berusaha mendengarkan pelajaran setelah itu, yang membuatku sedikit takik di bidang akademis.

Jangan meremehkan efek yang dimiliki orang lain terhadapmu, maksudku.

 

Kau mungkin berpikir itu konyol jika aku akan meronta-ronta dengan ujian masuk SMA dengan pengetahuan yang usia dua puluh tahun.

Tapi, hei, kamu coba kosongkan kepalamu dan terjebak kembali di SD selama beberapa tahun. Aku pikir kau akan mengerti apa maksudku.

Otak itu fleksibel, jadi setiap informasi yang kita anggap tidak perlu pasti tanpa ampun akan  dilempar keluar.

 

* 12 *

 

Aku kira ini adalah penderitaanku, setelah menjalani kehidupan pertama tanpa penyesalan, menjalani kehidupanku yang kedua penuh dengan penderitaan.

Aku tidak pernah meminta banyak. Jika kau bertanya kepadaku, aku sangat rendah hati. Aku pikir sikapku patut dipuji.

Dalam hal ini, aku tidak benar-benar tahu apa yang Tuhan pikirkan. Apa-apaan, lagi pula mungkin Tuhan tidak berpikir. Maksudku, dengan asumsi kalau Tuhan itu ada, tentu saja.

 

Yang benar saja, aku itu seorang ateis. Mengapa aku mengatakan semua ini tentang Tuhan? Aneh.

Yah, mungkin aku hanya meminjam kata “Tuhan” untuk merujuk pada keadilan dunia dan semua itu. Aku kira itu saja.

 

 

 

* 13 *

 

Jadi dengan semua yang terjadi, pada saat masa SMA datang, aku adalah individu yang sangat suram.

Jika diriku di kehidupan pertama melihat aku yang sekarang, dia tidak akan pernah percaya bahwa kita adalah orang yang sama, aku yakin. Atau setidaknya butuh beberapa saat.

 

Sejak Tsugumi menolakku di musim semi tahun ketiga masa SMP-ku, aku perlahan mulai membenci semua orang. Ini bukan seperti aku pernah benar-benar membenci semua orang, tapi …

Yah, aku masuk ke sekolah yang jauh lebih buruk daripada yang aku masuki sebelumnya. Dan berkat semua orang tanpa sedikitpun kecerdasan di sana, kesengsaraanku bermekaran.

Kenyataan bahwa aku adalah salah satu dari mereka, secara obyektif, tentu saja tidak penting.

Jadi aku terus menempatkan jarak di sekitarku. Akibatnya, aku adalah lambang seorang penyendiri.

 

Aku mungkin bilang bahwa waktuku di sekolah hanya diisi penderitaan.

Aku merasa seperti untuk para anak kelas tiga pada umumnya, aku hanya ingin semuanya segera berakhir. Aku bahkan mungkin mengatakan bahwa begitulah seluruh kehidupan sekolahku, yaitu hanya menunggu waktu berlalu.

Aku berpikir bahwa dengan waktu, segalanya akan menjadi lebih baik. Tapi satu-satunya waktu lakukan hanyalah membawa segalanya sampai akhir mereka.

Memang, masalahku tidak bertambah buruk, tapi juga tidak membaik.

 

Sekolah SMA tidak dibuat untuk orang-orang tanpa teman. Aku tidak memiliki orang seperti itu untuk menikmati melewatkan waktu bersama.

Dengan begitu, aku bahkan hampir tidak ingat masa SMP keduaku. Aku bahkan membuang buku tahunan itu tanpa melihat isinya sedikitpun.

 

Itu adalah saat yang menyakitkan. Bahkan saat tur sekolas, yang seharusnya sangat menyenangkan, justru sangat menyiksa.

Aku ingat orang lain secara blak-blakan memperlakukanku dengan kejam, dan terbangun di tengah malam di sebuah hotel untuk menangis di kamar mandi. Begitulah jenis kenangan yang kumiliki.

 

Aku selalu berpikir pada diriku sendiri, “Mengapa semuanya jadi seperti ini?” Dan “Ini seharusnya tidak terjadi.”

Tapi itulah perasaan yang bisa dimiliki siapa saja. Ini pada dasarnya hanya ketidaksesuaian diri.

Namun, diriky yang pertama tidak pernah memiliki pikiran semacam itu. Yang cukup aneh, sekarang aku memikirkannya.

 

 

* 14 *

 

Aku bertanya-tanya, apakah aku sekarang membayar harga karena terlalu bahagia saat di kehidupan pertama?

Tapi sekali lagi, aku merasa aku sudah memastikan bahwa dunia tidak memiliki rasa keadilan. Dunia yang aku tinggali sepertinya tidak cukup setara untuk bisa menjadi kenyataan.

Aku berpikir bahwa tergantung bagaimana aku melakukan sesuatu, aku bisa menjalani kehidupan yang lebih bahagia daripada kehidupanku yang pertama. Kesalahanku adalah mencoba mempertahankannya.

 

Katakanlah ada perlombaan dengan seratus orang partisipan, dan ada satu orang yang menempati tempat ketiga setiap saat, bukan?

Tapi lihat, dia ditempatkan di juara ketiga saat dia mencoba yang terbaik untuk memperoleh juara pertama. Jika dia hanya membidik juara ketiga sejak awal, dia mungkin akan finis di urutan ketujuh atau kesembilan.

Kurang lebih begitulah kesalahan yang sudah aku buat.

 

 

* 15 *

 

Namun, ada satu hal kecil yang sementara membuatku bangkit berdiri. Walaupun saat aku bilang sementara, aku serius.

 

Pada musim dingin tahun kedua masa SMA-ku, terjadi badai salju yang mengerikan pada suatu malam.

Aku menggigil menunggu bus yang menuju ke stasiun kereta.

Terminal itu memiliki atap, tapi angin yang meniup salju ke sekeliling membuatnya tak ada gunanya.

Mantel meltonku benar-benar putih dengan salju, serta wajah dan telingaku membeku kesakitan.

 

Ada lampu hangat yang datang dari rumah dekat terminal.

Jalan basah berubah menjadi menjadi seperti cermin, mencerminkan dunia yang terdistorsi dan terbalik.

Aku menganggapnya jauh lebih indah dari pada semua lampu dekorasi yaang ditujukan untuk keindahan.

 

Bus akhirnya tiba, meski seharusnya sudah sampai tiga puluh menit yang lalu.

Tapi sebelum pintu bahkan dibuka, aku tahu aku tidak punya waktu untuk menaikinya. Dengan enggan aku melihat bus yang lamban itu maju berangkat.

 

Aku melihat ke atas langit dan menghela napas putih.

Aku yakin aku akan kedinginan dalam cuaca seperti ini, tapi aku tidak begitu peduli. Aku punya alasan pantas untuk bolos sekolah, bukan?

Aku setengah siap untuk tetap di sana lima jam lagi dan terkena pneumonia.

 

Tapi ketika aku duduk di bangku, tiba-tiba aku melihat ada orang yang sama-sama menunggu dengan sia-sia di halte bus di seberang jalan.

 

Aku kenal gadis itu dengan baik, rambutnya berkibar dalam badai. Ya, Tsugumi, orang yang menolakku di musim semi tahun ketiga masa SMP-ku.

“Kenapa?”, itulah yang pertama aku pikirkan. SMA yang kami berdua belajar seharusnya terpisah jauh jaraknya.

Aku penasaan apakah, mungkin kadang-kadang, dia punya tugas atau urusan lain yang membawanya ke sini.

 

Aku bisa saja langsung menanyakannya, tapi aku tidak bisa mengumpulkan tekad untuk berbicara dengannya.

Pada saat itu, aku masih memiliki semacam kekecewaan pada Tsugumi. Dia tidak menerima keinginan baikku, jadi sekarang aku tidak akan memberikannya padanya.

Alasan egois ya. Tapi jika aku tidak mengalihkan kesalahannya pada ke orang lain, aku tidak akan bisa hidup dengan diriku sendiri.

 

Tapi sekarang Tsugumi ada di depanku, aku menemukan ada bagian diriku yang senang. , Paling tidak, aku harus menyadari itu.

Aku menatap Tsugumi dengan kasar, tapi sepertinya dia tidak menyadarinya. Mungkin aku sangat tidak penting padanya sehingga dia sudah lama melupakanku.

 

Menggigil kedinginan, dia tampak sangat kesepian.

Aku merasa bisa menggunakan seseorang yang hangat di sampingnya.

 

Tentu saja, ini hanya aku yang membuat asumsi dan khayalan palsu. Karena ketika aku berpikir “seseorang,” tentu saja yang aku maksud adalah diriku.

Tapi kukatakan pada diriku sendiri itulah yang dia pikirkan. Salah tafsir yang membahagiakan.

Ilusi bahwa aku mungkin dibutuhkan oleh seseorang yang sebenarnya merasa cukup baik.

 

Aku berhasil meyakinkan diriku bahwa “Hei, pada akhirnya gadis itu membutuhkanku.”

Toh, orang bisa menggunakan kesalahpahaman ini sebagai makanan untuk tetap hidup.

Agama adalah contoh yang baik … Tidak, aku bercanda. Aku tidak mau membuat orang marah.

 

 

* 16 *

 

Aku telah kehilangan banyak antusias untuk hidup, namun didorong oleh kesalahpahamanku yang penuh harapan, aku bertekad untuk mendapatkan kembali hari-hari bahagiaku.

Agenda yang pertama yaitu belajar seperti orang gila untuk masuk ke universitas yang sama dengan Tsugumi.

Bukannya aku belajar dengan panik. Dibanding berfokus pada belajar, tapi lebih seperti aku berhenti memusatkan perhatian pada hal lain.

“Konsentrasi dengan eliminasi,” mungkin? Punya ungkapan yang bagus untuk itu. Aku menyingkirkan semua pilihan yang tidak aku pelajari.

 

Ini adalah metode yang berbahaya. Jika kau mengacaukannya, itu adalah cara mudah untuk membuat dirimu sendiri tidak berbakat tanpa harus hidup. Tapi kurasa aku bertahan dengan menyetel musik saat aku belajar.

Aku tidak pernah menganggap diriku penggemar musik sebelumnya. Aku hanya sangat menyukai John Lennon. Terutama karena dalam kehidupan pertamaku, setiap kali pacarku punya waktu luang, itulah yang akan dia mainkan.

Anehnya, kenangan yang berhubungan dengan Lennon menonjol sedikit lebih banyak daripada yang lain. Yah, aku kira musiknya bertahan lama, jadi mungkin itu tidak aneh.

 

Aku membaca di majalah sekali sebuah lagu yang bagus, bahkan jika sama sekali tidak sesuai dengan mood-mu, tumbuh padamu saat kau mendengarkannya lagi dan lagi.

Dulu aku hanya mendengarkan lagu karaoke. Tapi di ronde kedua masa SMA-ku, aku pernah mendengar “Yer Blues” di radio, dan segera menyadari betapa akrabnya John Lennon di telingaku.

Sejak saat itu, aku akan selalu menyetel lagu Lennon saat aku belajar.

 

Akhirnya memiliki tujuan yang jelas, aku menjadi lebih serius dengan SMA.

Sampai saat itu, aku sudah memeriksa jam lima puluh kali, berharap semuanya bisa berjalan sedikit lebih cepat.

Tapi saat pelajaran berlangsung menjadi sesuatu yang penting bagiku, itu mulai berlalu dalam sekejap mata.

 

Aku mempraktikkan hafalan-hafalannya bahkan di dalam bus dan kereta, dan setelah aku menghabiskan banyak waktu di mejaku di malam hari, aku berhenti bergadang mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting.

Aku menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan hal-hal yang tidak penting.

Dengan menjejalkan sejumlah infomarsi yang luar biasa ke dalam kepalaku dalam waktu singkat, kenangan lama terkesampingkan, berkurang rasa pentingnya.

 

Tahun terakhir sekolahku sebenarnya agak damai. Bagian yang paling kuingat adalah ujian akhir, ujian di awal musim dingin. Kenanganku terkurung di kamarku saat belajar.

Aroma kopi memenuhi ruangan, dan speaker di sebelah kiri mejaku dengan lembut memainkan lagu Strawberry Fields Forever. Di sebelah kanan ada lampu meja kecil, yang satu-satunya penerangan di sana.

Di belakang dan di sebelah kanan kursiku ada sebuah penghangat, miring dengan pas sehingga tidak meniup udara panas langsung ke arahku.

 

Setiap dua atau tiga jam sekali, aku mengenakan mantelku, pergi ke luar, dan menghirup udara musim dingin.

Jika cuacanya bagus, aku bisa melihat bintang-bintang. Begitu semuanya terisi, aku akan masuk kembali, menghangatkan tangan pada penghangat, dan kembali ke dunia hanya diriku sendiri, buku teks, dan musik.

Itu tidak terlalu buruk, sebenarnya. Mungkin bahkan ada kualitas yang menenangkan dan memuaskan diri sendiri.

 

Pada akhirnya, aku meregangkan kemampuan akademisku sejauh yang aku bisa.

Dan ajaibnya, aku bisa masuk universitas yang aku masuki di kehidupan pertamaku.

Ini adalah perasaan yang indah. Akhirnya aku berhasil meyakinkan diriku kembali. Aku merasa bisa melakukan apa saja.

 

Jadi itu bagus. Semuanya berjalan baik sejauh ini.

 

Saat upacara masuk perguruan tinggi usai, aku mencari-cari mantan pacarku … Tsugumi.

Dan ya, aku menemukannya, tapi di sinilah masalah dimulai.

 

Tiga tahun sudah banyak cukup waktu agar segala sesuatu berubah. Dan kupikir aku sudah siap.

 

 

* 17 *

 

Setelah upacara berakhir, aku bergegas menuju pintu masuk aula, dan di sanalah aku menunggu Tsugumi lewat.

 

Tentu saja, aku belum memeriksa secara keseluruhan untuk memastikan dia benar-benar masuk ke perguruan tinggi yang sama seperti di kehidupan pertamaku.

Jika tidak ada yang pasti akan sama, mungkin karena kenyataan bahwa Tsugumi dan aku tidak bertemu, kemungkinan besar dia pergi ke perguruan tinggi yang berbeda.

Bahkan mungkin Tsugumi sudah lama menemukan pekerjaan.

 

Untungnya, hanya ada satu pintu keluar. Jadi jika dia ada di sana, kemungkinan kecil bahwa aku tidak akan melihatnya.

Ditambah, aku sudah mengasah sensorku untuk membedakan antara Tsugumi dan orang lain. Aku bahkan tidak bercanda. Jika kau pernah memiliki cinta yang kuat untuk seseorang saat kau masih muda, kau akan tahu apa yang aku maksud.

 

Murid-murid baru, yang aku adalah satu di antaranya, akan melihat orang-orang yang mereka kenal dan menangis dengan teriakan kegirangan yang berlebihan saat mengenali satu sama lain.

Itu tampak menggelikan bagiku, dan mungkin juga orang lain. Tapi aku ragu mereka peduli, mereka terlalu banyak bersenang-senang.

Jujur ​​saja, aku iri. Sayangnya, tidak ada yang aku tahu, dan jika itu aku, aku tidak ingin berbicara dengan siapaun pun. Jadi aku tidak perlu melakukan semua itu.

Tapi jika saat aku menemukan Tsugumi dan memanggilnya, dia berteriak dengan kegembiraan untuk menemuiku lagi seperti gadis-gadis lain, itu pasti akan membuatku bahagia.

 

Ide itu sendiri mungkin adalah apa yang membuatku bertahan sekitar setengah tahun.

Pada saat ini, aku menjadi sangat ekonomis. Karena hidupku kurang bahagia, setiap kali mengalami kebahagiaan sekecil apa pun, aku merenungkannya dan mendapatkan semua yang bisa kulakukan darinya, seperti menjilati es krim setiap sedikit.

 

Rambutku terpotong rapi, memakai dasi, dan melonggarkan otot wajahku untuk reuniku dengan Tsugumi.

Dan kemudian waktunya tiba.

 

Aku hanya melihat sedikit bagian belakang kepalanya di antara kerumunan, tapi aku yakin. Itu Tsugumi.

Aku tidak yakin harus berkata apa padanya, jadi aku mulai dengan berjalan.

Ada rasa sakit yang aneh di dadaku. Napasku menjadi tidak beraturan. Beberapa meter terasa seperti ratusan meter.

 

Ketika aku cukup dekat, aku merasa yakin dia bisa mendengarku, aku baru saja akan memanggil namanya, “Tsugumi!” –

Tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku yang terbuka.

 

Aku merasakan suhu tubuhku anjlok.

 

* 18 *

 

Mantan pacarku sedang berjalan, saling menempel, dengan pria yang tidak aku kenal.

Dan jika hanya itu, mungkin aku bisa mengatasinya.

 

Maksudku, kami sudah berpisah selama tiga tahun. Dan orang lain pasti tidak akan meninggalkan gadis yang menawan seperti itu sendirian.

Aku tidak benar-benar ingin memikirkan kenyataan itu, tapi aku pikir aku sudah siap untuk itu.

Tsugumi pasti kesepian. Jadi, sekauinya dia menemukan seseorang untuk menggantikanku, aku tidak bisa menyalahkannya.

 

Tapi ketika pria yang berjalan di samping Tsugumi mencari semua maksud dan tujuan meludahi diriku dari kehidupan pertamaku yah, itu cerita yang berbeda.

 

Orang yang berjalan dengan Tsugumi, tinggi badannya, tindakannya, suaranya, ucapannya, ekspresinnya, semuanya identik dengan diriku yang pertama.

Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, kenangan hidup pertamaku tidak konkret, tapi dia sangat menyukai karakteristik seperti “senyum ramah” dan “suara yang melodis.”

 

Doppelganger” muncul dalam pikiranku.

 

Tapi ada beberapa masalah jika menganggap pria itu sebagai doppelganger-ku. Artinya, diriku yang pertama dan kedua sudah menjadi sangat berbeda dalam segala hal.

Jadi anehnya, jika kau membandingkanku dengan pria yang berjalan dengan Tsugumi yang tampaknya meniru kehidupan pertamaku … rasanya lebih seperti akulah yang palsu.

Jika ada doppelganger, rasanya lebih masuk akal untuk menganggap itu adalah aku, bukan dia.

 

Aku tahu bahwa aku sudah gagal. Sekauinya aku bisa menciptakan kembali kehidupan pertamaku, pasti aku akan menjadi pria di depan mataku.

 

Sekarang tak heran kenapa aku belum bisa mengencani Tsugumi.

Karena untuk kedua kalinya, aku punya seorang pengganti.

 

 

* 19 *

 

Aku tidak pernah merasa permusuhan seperti ini pada seseorang dalam waktu yang lama.

Sampai saat itu, aku tidak bisa benar-benar mengumpulkan energi untuk membenci siapapun. Karena untuk menganggap bah seseorang itu penjahat, kau perlu melihat bahwa dirimu berada di sisi yang benar, bukan?

 

Aku tidak bisa melakukan itu. Aku tahu lebih baik daripada orang yang berada di pengulangan yang kedua, aku adalah manusia yang tidak berharga.

Rasa dendam yang paling aku pegang sebelumnya adalah kepahitan samar yang kurasakan terhadap Tsugumi.

 

Tapi kali ini, aku dipenuhi dengan kemarahan.

Aku hanya bisa berdiri tercengang, berteriak di kepalaku “Hei, itu tidak benar! Itu PERANKU! ”

 

Apa yang bisa kukatakan? Jika Tsugumi baru saja mendapatkan pacar, aku bisa hidup dengan itu. Yang benar saja, aku bahkan mungkin berpikir “aku akan merebutnya kembali,” katakan pada diri sendiri “aku jauh lebih baik daripada dia!”

Sekarang aku benar-benar bisa marah. Pertarungan untuk merebut kembali pasanganku yang sudah ditakdirkan.

 

Tapi itu tidak lain adalah diriku yang merebut Tsugumi dariku sendiri… Baiklah, yah, mungkin itu bukan cara yang tepat untuk mengatakannya.

Pada dasarnya, seseorang yang merebut posisi yang aku miliki di kehidupan pertamaku, dan tumbuh persis seperti aku saat itu, tampaknya adalah pacar Tsugumi.

Jadi dia sudah memilihnya sebagai “orang yang lebih sempurna.”

 

Jadi di sini aku harus bertanya sesuatu.

“Bisakah aku mengalahkan diriku sendiri?”

 

Sekauinya aku berkompetisi dengan tipe pria yang berbeda, aku bisa menemukan kebaikan diriku sendiri untuk ditekankan.

Dan aku yakin Tsugumi akan jatuh cinta padanya. Apa yang kau cari dari pasangan tidak mudah berubah.

Tapi bersaing dengan pria yang sama persis denganku? Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menang.

Karena harus kuakui, dia lebih superior dariku.

 

 

* 20 *

 

Jadi aku kalah lagi.

Bulan-bulan berikutnya penuh dengan kejutan. Karena diriku yang lain dengan sempurna menciptakan pengalaman kuliahku, satu demi satu.

Biasanya aku akan membahas lebih detail tentang semua itu, tapi kali ini aku akan memperbaikinya. Kalau hanya karena aku menekan diriku untuk menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.

 

Dalam waktu singkat, dia adalah tokoh sentral di fakultasnya, dia dihormati oleh banyak orang, dia bersahabat dengan banyak gadis  tetap saja, dia terjebak dengan Tsugumi.

Oh, sebagai pengamat, aku tidak bisa tidak berkomentar sungguh bahagianya aku di kehidupan pertamaku. Lagi. Namun dia tidak pantas tidak diterima, dia baik untuk semua orang.

 

Aku benci mengakuinya, tapi jika dia dan Tsugumi berjalan bersama pasti membuat foto yang bagus. Kau bisa mengatakan, kalau mereka adalah dongeng berjalan.

Mereka begitu menyilaukan, aku merasa seperti aku tidak pantas berada bersama mereka. Tentu saja, mereka adalah pasangan yang ramah, dan jika aku menunjukkan keinginan untuk berteman dengan mereka, mereka akan mudah menerimanya.

Tapi bukan itu yang aku inginkan.

 

Namun aneh rasanya berpikir bahwa bahkan orang yang tampaknya sempurna ini bisa berakhir seperti diriku yang sedikit salah langkah.

Jika diberi kesempatan yang sama untuk menghidupkan kembali hidupnya, tidak ada kemungkinan dia juga akan hancur.

Bila kau melihatnya seperti itu, mungkin tidak banyak orang baik dan buruk karena ada lingkungan baik dan buruk dimana orang tumbuh.

Setidaknya, keturunan tampaknya tidak begitu menarik perhatian padaku.

 

 

* 21 *

 

Sekitar akhir Oktober tahun berikutnya, sesuatu tersentak di kepalaku.

 

Setelah lulus SMA, aku tinggal di sebuah apartemen dekat kampusku. Dan saat itu, aku menjadi sangat tertutup.

Aku jarang pergi ke kampus, tidak memiliki pekerjaan paruh-waktu atau apapun, tidak bertemu dengan siapapun, tidak makan dengan teratur, minum alkohol sepanjang hari, dan tidur sepanjang waktu.

Aku bahkan tidak menyalakan TV atau radio, dan juga tidak membaca berita. Aku mengisolasi diriku dari dunia luar.

Selain pergi ke minimarket untuk membeli bir, rokok, dan junk food, aku tidak pernah pergi ke sana.

Semua inbox ponselku ada di dalamnya adalah kabar dari agen untuk mencari pekerjaan paruh-waktu dan buletin. Tak satupun satu di antaranya adalah nama manusia.

 

Sejak aku menyadari “pengganti”-ku ada, aku harus membandingkan diriku dengannya kapan pun aku melakukan sesuatu.

Aku menjadi sangat sadar diri sendiri tentang betapa baiknya dia melakukan setiap hal kecil.

 

Berkat itu, bahkan hal-hal yang sangat biasa sebelumnya tiba-tiba tak tertahankan.

Misalnya, aku tidak pernah memiliki masalah dengan tidak menghadiri kelas saat SMA, tapi ketika aku melihat Tsugumi dan pengganti-ku  sepertinya namanya Tokiwa  yang selalu hadir setiap hari, membuatku merasa putus asa sendirian.

Sejak saat itu, setiap hari aku datang dan pergi ke kampus sendirian, aku merasa hampa dengan kekosongan berpikir bagaimana Tsugumi tidak berada di sisiku.

 

Dan ini berangsur-angsur mulai terjadi setiap saat aku terjaga.

Saat aku makan sendiri. Saat aku menonton TV sendirian. Saat aku hanya berbaring di ranjang. Saat aku belanja sendirian.

Aku sadar Tsugumi tidak berada di sampingku sepanjang waktu, dan aku terserang rasa kehilangan.

 

Ketika aku berjalan melalui kota dan melihat pasangan SMA dan yang lainnya, aku tidak tahu apa-apa.

Tsugumi dan Tokiwa pasti selalu berkencan dengan seragam seperti itu, pikirku. Aku tidak bisa melupakannya.

Pada hari-hari di mana mereka terlambat pergi ke klub yang akan membuat mereka pulang bersama, pada hari-hari hujan mereka berbagi payung, pada hari-hari bersalju mereka akan memegangi saku mereka.

Terlalu mudah bagiku untuk membayangkannya.

 

Dan mungkin saat melihat Tsugumi menunggu di halte bus hari itu, dia menunggu Tokiwa.

Aku tahu betapa senangnya Tsugumi bisa membuatku bahagia, dan mungkin aku tahu betapa bahagianya aku bisa membuat bahagia.

Jadi aku merasa hampa.

 

Aku sangat terluka. Sayangnya, semua yang aku lakukan untuk mencoba dan menenangkan diri  melihat pemkaungan yang indah, makan hal-hal yang lezat, menonton film emosional  justru memiliki efek sebaliknya.

Lebih jauh mengingatkanku bahwa aku tidak memiliki orang untuk berbagi hal-hal menakjubkan itu denganku.

 

Aku sudah menyerah. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku hanya selangkah dari kegilaan.

Itulah sebabnya aku menjauhkan diri dari dunia luar, dan membuat otakku terganggu dengan alkohol dan rokok. Mereka adalah beberapa penemuan terbaik manusia.

 

* 22 *

 

Ini adalah hari festival di kampus, tapi aku bahkan tidak memiliki kemauan untuk meninggalkan rumah. Ini bukan seperti aku mengikuti klub mana pun, dan juga tidak ada yang bisa aku kunjungi.

 

Aku tahu itu hanya akan membuatku merasa lebih sengsara, tidak diragukan lagi.

Tentu saja, meskipun, aku sudah dibuat sengsara hari itu meskipun keputusanku untuk tidak pergi ke sana.

 

Karena sayangnya, aku ingat seperti apa hari ini di kehidupan pertamaku.

Dasar ingatan bajingan, kembali kepadaku di saat yang sempurna …

Yah, seharusnya aku tidak mengharapkan apapun, karena itu adalah yang terpenting.

 

Kehidupan pertamaku dan Tsugumi jarang sekali berpisah setelah lima belas tahun, dan akan berpelukan dan berciuman setiap saat, bahkan saat mata orang lain tertuju pada kami.

Tapi anehnya, ada satu garis penting yang ragu untuk kami lewati.

 

Kenapa? Yah, kami sangat intim. Kami percaya bahwa perasaan kami satu sama lain akan tetap sama, jadi kami tidak terburu-buru.

Jadi kami bertahan sebaik mungkin. Kami berhasil menyingkirkan antisipasi kami … untuk sementara waktu.

Sampai di hari festival berlangsung, saat garis terakhir yang tersisa terlewati.

 

Jadi, ya … malam itu, Tsugumi dan Tokiwa melewati garis itu.

 

Aku merasa seperti sedang dibuat kesal diriku sendiri. Tidak seperti sebelumnya, aku sangat marah karena alasan; Aku ingin menghancurkan sesuatu, dan dengan alasan itu kupikir aku mungkin akan pergi keluar dan menemui Tsugumi.

Tapi tindakan yang sebenarnya aku pilih adalah kebalikannya. Dan kenapa aku melakukannya, aku sendiri tidak tahu.

 

Aku bersembunyi di bawah meja. Ya, seperti saat menghadapi kebakaran. Dan aku mulai terisak-isak. Selama berjam-jam, seperti anak kecil.

Meski aku masih kesal. Meskipun aku masih melihat orang itu sebagai musuh fanaku.

Tapi begitu kau putus asa, semuanya berakhir. Karena itu setidaknya aku sedikit menerima bahwa itu semua tidak berharga.

 

 

* 23 *

 

Kamarku sudah sangat redup. Kudengar kicauan jangkrik di luar jendela.

Aku sudah tenang. Dan aku merasakan api kecil menyala di dalam hati aku.

 

Anehnya, aku tenang.

Aku menyetujui fakta bahwa aku bukan orang yang tepat untuk Tsugumi, dan bahwa aku tidak pernah bisa mengalahkan Tokiwa.

 

Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku bertanya pada diri sendiri. Itu mudah, aku jawab.

“Singkirkan kembaranku.”

 

Aku dengan mudah menerima jawaban yang aku dapatkan.

Tidak akan mengatakan bahwa aku sedang waras, tidak.

Karena singkatnya, aku mengira membunuh Tokiwa, pria yang mencuri tempatku.

Lalu, tentu saja, Tsugumi akan kesepian dan datang padaku, hal terbaik berikutnya.

 

Tidak peduli bagaimana Kau memkaungnya, itu tidak rasional, dan bahkan jika aku berhasil membunuh Tokiwa, sulit untuk mengatakan bahwa hal itu akan menyelesaikan semuanya secara mendasar.

Sebenarnya, jika Tokiwa meninggal pada saat ini dalam hubungan mereka, sangat mungkin Tsugumi mendewakannya dan bahkan tidak mencoba untuk mencari pria lain.

 

Tapi bagaimanapun, pada saat itu, aku sangat serius. Aku bahkan dengan egois berpikir “Ini demi Tsugumi.” Meskipun bagaimana dia bisa dengan jelas lebih bahagia seperti sekarang.

Mereka yang didorong ke pojok benar-benar tidak cenderung memiliki pemikiran yang baik. Pkaungan mereka terlalu sempit.

Secara keseluruhan, aku harus mengakui diriku yang kedua adalah sampah dan orang yang tolol.

 

Bergantung pada bagaimana kau memkaungnya, usia mentalku bisa dianggap berusia dua puluh sembilan tahun: 20 tahun di kehidupan pertama ditambah 9 tahun di kehidupun kedua.

Tapi sejauh yang aku tahu, sepertinya pikiranku belum matang lebih usia 20 tahun.

Aku pikir aku mengalami fenomena “kura-kura dan kelinci” yang cenderung terjadi pada anak-anak yang terlalu dewasa sebelum waktunya.

 

Nah, sekarang … itu agak lama, tapi semua ini kurang lebih menjadi pendahuluan.

Katakan yang sebenarnya, yang paling penting dalam perjalananku kembali ke usia 20 tahun adalah beberapa bulan terakhir ini.

Jadi mulai dari sini, aku akan mulai menjelaskan semuanya dengan lebih teliti.

 

 

* 24 *

 

Jadi… Begitulah Operasi Merebut Kembali Pacarku dimulai.

Atau untuk membuatnya lebih blak-blakan, rencanaku membunuh doppelganger-ku.

 

Sekarang, jika aku tertangkap setelah membunuh Tokiwa, semuanya akan sia-sia.

Untuk memastikan pembunuhan ini menjadi kejahatan yang sempurna, pertama aku mulai menguntitnya.

Aku menguntitnya selama berhari-hari, menunggu saat yang tepat bagiku untuk benar-benar membunuhnya suatu hari akan muncul.

 

Metode yang aku inginkan adalah mendorongnya dari tempat yang tinggi, membuatnya terlihat seperti kecelakaan.

Ya, aku mencari kematian yang sangat alami sehingga dalam beberapa tahun mendatang, bahkan aku yang melakukannya pasti berpikir “Itu kecelakaan, bukan?”

Tentu saja, kau selalu mendengar tentang orang-orang yang melakukan hal buruk yang dipenjara karena ada sedikit kesalahan.

Tapi apa yang aku pikirkan, tidak terjadi karena mereka tidak berhati-hati. Itu terjadi karena orang tersebut benar-benar berpikir “seharusnya aku dipenjara.”

Pemikiran bersalah itu memakan mereka sampai mereka merasa seperti “akan lebih mudah jika aku dipenjara,” dan itu adalah kesalahan.

 

Jadi seperti yang aku katakan, sangat ideal jika aku mengikuti metode yang melemahkan perasaan bahwa “aku membunuhnya” agar mencegah hal itu terjadi.

Dan setidaknya berbicara tentang kehidupan pertamaku, aku suka melamun dan melihat pemkaungan di jembatan, melihat platform, atap, dan semua tem[at yang tinggi.

Jadi, kau tahu, jika dia berada di jembatan tanpa ada orang di sekitarnya dan tanpa ada pagar, dan sedang menatap ke depan, aku bisa menyelinap dan meraih kakinya, lalu mendorongnya seketika.

Aku tidak tahu peralatan seperti apa yang dimiliki polisi zaman sekarang, tapi kalaupun mungkin mereka melihat sesuatu yang tidak wajar dari mayatnya, karena tidak ada satu rambut pun, benang dari pakaianku, ataupun sidik jari yang bisa ditemukan di tubuhnya, Kupikir aku akan baik-baik saja.

 

Yang harus aku lakukan adalah terus menunggu dengan sabar momen beruntung. Aku tidak bisa hanya memberi kesempatan di sini, aku harus menunggunya.

Tidak ada tapi-tapian, aku bukan tipe orang yang bisa melenturkan akal mereka untuk menipu polisi. Tidak peduli betapa kerasnya aku mencoba, tak terelakkan lagi aku akan membuat kesalahan.

Jadi aku harus mengandalkan keberuntungan.

 

Dan untungnya, aku memang punya banyak waktu luang. Sekauinya ini terjadi sebelum festival, mungkin aku sedikit tidak sabarann.

Aku mungkin bahkan membunuh Tokiwa sebelum dia melewati garis akhir itu. Sungguh, aku senang aku tidak datang.

 

Menguntitnya tidak terlalu sulit dilakukan. Karena Tokiwa sangat identik dengan diriku yang pertama, aku bisa dengan mudah meramalkan tindakannya.

Aku yakin dia akan pergi ke sini nanti, mungkin dia akan segera ke siniaku mengenali hal-hal seperti itu hari ini.

Dan sungguh, kau tidak akan menyadari bahwa kau sedang diuntit jika kau bukan orang yang terlalu banyak melihat dirimu.

 

Sekarang ketika kau mendengarku berbicara tentang “menguntit” targetku, mungkin kau membayangkan ini akan dimainkan seperti cerita detektif pribadi. Yah, aku harus membiarkanmu berpikir seperti itu.

Sebenarnya, itu semua adalah kebosanan dan ketidaknyamanan. Sekalipun target aku memang memiliki rahasia besar yang dia sembunyikan, dia masih hanya seorang pelajar.

Ditambah lagi, saat-saat aku bisa mengikutinya dengan yakin keselamatan terbatas. Jadi pekerjaan utama aku hanya … menunggu.

Terutama, menunggu Tokiwa datang dan diam di suatu tempat. Tentu saja, dia akan curiga kalau melihatku.

Aku pernah kerja paruh waktu menghitung orang-orang yang naik dan turun dari kereta, dan itu terasa lebih berharga daripada melakukan ini.

 

Yang lucu adalah, bagaimanapun, aku akan keluar lebih sering demi menguntit Tokiwa, yang berakhir menyembuhkanku sebagai orang yang menutup.

Tentu saja, mungkin ini bukan kasus yang parah.

 

Ironisnya, kepribadianku menjadi cerah untuk sesaat setelah mendapat ide pembunuhan ini.

Aku pergi ke toko pakaian tua untuk mengganti pakaianku yang akan membantuku menguntit, aku belajar teknik menguntit dari buku dan internet, aku menghafal peta kota …

Hanya ada sedikit yang bisa disatukan, tapi mungkin efeknya bagus di otakku.

Tidak seperti rangsangan sebelumnya, tapi sekarang mulai mendapatkan hasil bagus dengan semua infomasi itu.

 

Aku kira bagus memiliki ide yang jelas tentang apa yang ingin aku lakukan. Sekalipun tujuanku adalah pembunuhan, setidaknya aku sedang berusaha meraih sesuatu itu punya efek yang positif.

Tampilan wajahku bahkan mulai berangsur membaik. Aku jarang melihat ke cermin setelah kuliah, jadi aku tidak pernah melihat perubahannya pada awalnya.

Tapi ketika adik perempuanku menunjukkannya, dan aku melihat-lihat di cermin, aku memperhatikan bagaimana aku terlihat sedikit lebih ceria …

 

Ah, itu benar aku benar-benar lupa membicarakan adikku. Mungkin seharusnya aku mengungkitnya lebih awal.

Adikku, dia mengalami perubahan yang drastis seperti halnya diriku.

Dari sudut pkaung tertentu, aku membuatnya menderita lebih dari orang lain.

 

* 25 *

 

Ingatanku tentang adikku bahkan lebih jelas daripada pacarku. Dia memainkan peran yang cukup penting untuk diriku yabg pertama.

Di kehidupan pertama, dia adalah gadis yang sangat ceria. Dia menyukai sinar matahari dan berolahraga lebih dari yang lainnya, dan akan berjemur sepanjang tahun.

Seperti sebuah bola energi yang besar. Dan hanya memiliki dia di sisiku membuatku merasa lebih bersemangat.

 

Aku tidak akan mengatakan bahwa figurnya “feminin”; Mungkin saja dia tidak terlalu memperhatikan asupan kalori yang tepat.

Meskipun begitu, dia selalu memiliki senyum di wajahnya dan tidak peduli dengan dunia ini, jadi orang menyukainya. Teman-temanku akan selalu memintaku untuk “mengenalkannya.”

 

Namun, saat di kehidupan kedua ini … Dia menjadi seorang adik yang suram dan pucat yang lebih suka membaca dan tempat teduh, dan sama sekali tidak sopan.

Rasanya seperti lelucon bagi siapa saja yang tahu tentang keadaannya di kehidupan pertana. Perbedaan di antara keduanya tampak lebih penting daripada kasusku sendiri.

 

Dan kupikir itu salahku karena adikku berubah menjadi seperti ini.

Mempunyai kakak yang sering bolos sekolah dan biasa menunjukkan perilaku buruk, tidak mengherankan jika hal itu akan mempengaruhi dia.

Mungkin adikku, saat melihat kakaknya meninggalkan rumah dengan wajah seperti orang mati dan pulang ke rumah hanya untuk meringkuk di kamarnya, seperti yang kehilangan semua harapan untuk masa depannya.

 

Dengan dua kakak-adik yang murung, seluruh rumah kami akan larut malam setiap malam.

Sungguh, itu sangat mengerikan. Tidak ada yang pernah tersenyum. Di sana hanya ada suara tawa yang dingin dari TV.

 

Orang tua kami kehilangan kepercayaan diri mereka pada kemampuan mendidik mereka, bahkan gen mereka sendiri saat mereka melihat kami.

Mereka adalah orang-orang yang luar biasa, meski aku tahu kedengarannya aneh mengatakannya seperti itu sebagai anak mereka.

Tapi dengan anak laki-laki yang terlihat seperti akhir dari dunia, dan anak perempuan yang selalu membaca dan terjebak di cangkangnya, tidak ada kesempatan untuk mereka sendiri untuk tetap cerah dan ceria.

 

Hal semacam itu membuat orang berkelok. Ibuku datang menemuiku sebagai kegagala dan memiliki harapan besar untuk adikku, memberinya seorang guru private dan semua hal lain yang memberi tekanan padanya.

“Sekarang kau jangan mengecewakanku,” rasanya seperti itulah yang dia katakan. Tentu saja ini adalah beban berat bagi adikku dan setiap kali aku melihatnya, aku merasa seluruh keberadaanku ditolak.

 

Kalau ayahku? Sepertinya dia memutuskan untuk menyerah pada keluarga. Dia lari ke dunianya sendiri, dan mulai mengendarai sepeda motornya.

Aku tidak terlalu peduli, dan sebenarnya kupikir itu adalah hobi yang bagus. Tapi dia hampir tidak pernah pulang di hari libur, dan dia tidak pernah pergi berbelanja dengan ibuku.

Sungguh menakutkan untuk dilihat. Perkelahian terjadi setiap Sabtu pagi. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka.

 

Ketika aku berumur 17 tahun, ayahku mengalami kecelakaan yang cukup serius. Dia dirawat di rumah sakit selama sebulan, dimana rumah menjadi sangat damai.

Tapi pada hari dia keluar dari rumah sakit, orang tuaku bertengkar hebat, dan kurang lebih berhenti berbicara satu sama lain sesudah insiden itu.

 

Dan aku harus mengatakan itu semua salahku.

Ketikaku berubah, itu merubah adik perempuanku, dan kami berubah merubah orang tua kami. Mereka berdua harusnya tidak bertengkar.

Tapi mengatakan itu kepada mereka tidak aka membuat mereka kembali bersama-sama. Mereka mengira anak idiot mereka sudah gila.

 

Agak tergesa-gesa ke langsung berbicara tentang orang tuaku, tapi aku bilang ini tentang adikku, bukan?

Baiklah, yah. Aku dan adikku dulu sangat ramah. Tapi di di kehidupan yang kedua, kami bahkan tidak saling memkaung, apalagi bicara.

 

Aku bertanya-tanya apakah adikku membenciku. Pada kesempatan langka dia membuka mulutnya, biasanya apa yang dikatakannya adalah sebuah penghinaan.

Seperti “wajahmu seperti sampah,” atau “rambutmu terlalu panjang.” Hal-hal kasar yang bisa dikatakan pada seorang kakak, pikirku.

Lagi pula, dia terlihat lebih parah dariku, dan dia membiarkan rambutnya berantakan.

 

Sungguh menyedihkan. Aku membayangkan seorang ayah yang dibenci oleh putrinya mungkin akan merasakan hal yang sama.

Tapi itu juga tidak mengherankan, kupikir. Aku hanya tipe orang yang sangat wajar untuk dibenci.

 

* 26 *

 

Tapi suatu malam, sekitar sebulan setelah aku dengan gembira merencanakan proyek pembunuhan doppelganger-ku dan menguntit Tokiwa, adikku datang sendirian ke apartemenku.

Ya, adik perempuan yang sama yang seharusnya membenciku.

 

Salju pertama musim ini baru saja mulai turun hari itu. Tidak lama setelah aku keluar dari bak mandi, aku merasa cukup kedinginan, jadi aku menyalakan pemanas untuk pertama kalinya pada musim dingin saat itu.

Setelah diabaikan selama berbulan-bulan, benda itu meniupkan debu selama beberapa menit setelah aku menyalakannya.

Kemudian secara bertahap udara hangat mulai mengalir, dan bau harum minyak lampu memenuhi ruangan.

 

Saat aku meringkuk di depan pemanas untuk menghangatkan diriku, bel pintu berdering. Aku melihat jam: 9 PM.

Siapa yang  datang pada jam segini? Aku tidak punya teman yang akan mengunjungiku mungkin ada yang salah kamar?

Bel pintu berbunyi lagi. Biasanya, ajy akan mengabaikannya, tapi aku merasa ada yang agak aneh pada hari itu.

Aku tetap berdiri di cermin, bergegas menuju pintu masuk, dan membuka pintu.

 

Mungkin aku hanya rindu bertemu dengan seseorang. Tidak masalah apakah itu kesalahan atau tidak; hanya memiliki seseorang di pintuku membuat aku bahagia.

Jadi kupikir kami bisa mengobrol sedikit sebelum mereka pergi.

 

Tapi tidak, itu adalah adik perempuanku di pintu.

Aku kebingungan. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah sesuatu yang mengerikan telah terjadi di rumah.

Seperti ayah kami mati kecelakaan, atau ibu kami pulang ke rumah. Dan dia datang untuk memberitahuku.

Bila kau menjalani kehidupan yang tidak memiliki hal baik dalam waktu yang lama, kau akan mulai berpikir bahwa kau selalu akan mendapatkan kabar buruk.

 

Adikku, yang hanya memakai seragam dengan kardigan , mengeluarkan napas dingin dan berbicara, tidak menatapku.

“Biarkan aku tinggal sebentar di sini.”

Aku bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi di rumah, dan dia hanya mengatakan “Tidak ada yang terjadi” saat dia menerobos masuk ke apartemen.

 

Dia mengerutkan mukanya karena bau tak sedap dari botol dan kaleng kosong, pakaian kotor, dan rokok, dan mulai membuka semua jendela yang sudah tutup untuk menjaga agar apartemen tetap hangat.

Kenyataan bahwa dia sudah membersihkan semuanya di sini membuatnya jelas bahwa dia bermaksud tinggal untuk sementara waktu.

Aku tahu bahwa tidak seperti adikku di kehidupan pertama, dia bukan tipe orang yang membutuhkan bantuan kakaknya untuk merawat dirinya sendiri.

Aku yakin tas Boston mewah yang dia bawa di bahunya penuh dengan pakaian ganti dan sebagainya.

 

Pertama-tama, aku membawa adikku sesuatu yang hangat untuk diminum, karena tahu dia akan terserang flu.

Sementara dia mengatur pakaian yang aku biarkan di sekitar ruangan, aku mengisi cangkir dengan air panas dan mengaduknya dengan banyak bubuk coklat. Dia menyukai minuman manis seperti itu.

Dia mengambil cokelat panas itu dariku dengan kedua tangan dan perlahan menyesapnya. Saat aku melihat, aku memikirkan apa yang harus kukatakan selanjutnya. Dia mengintip ke dalam cangkirnya.

 

Terus terang, aku tidak perlu tahu kenapa adikku datang. Pasti itu menjadi pembicaraan yang membosankan.

Beberapa orang mungkin menganggapnya sebagai tugas seorang kakak untuk mendengarkannya, tapi aku tidak berminat untuk memenuhi tugas itu.

Aku begitu sibuk memikirkan bebanku sendiri sehingga aku sama sekali tidak punya keinginan untuk ikut campur dalam masalah orang lain.

 

Adikku pasti mengira aku akan menanyainya kenapa dia datang ke sini. Dia tampak tidak puas dengan bagaimana aky tidak mengajukan satu pertanyaan pun padanya.

Mata kami saling bertemu. Matanya seolah berkata, “Ayo, tanyakan sesuatu padaku.”

Karena tidak tahan mendapat tekanan, aku dengan enggan bertanya.

 

“Honoka, kau masih belum libur musim dingin?”

“Ya. Tapi aku sedang tidak mau berada di rumah itu, ” jawabnya.

 

Aha. Dengan kata lain, kau kabur dari rumah, pikirku  tapi aku tidak mengatakannya. Aku punya perasaan kalau mengatakannya hanya akan membuatnya marah.

Adikku di kedupanku yang kedua benar-benar membenci ungkapan idiot seperti itu yang menggambarkan dirinya.

 

Tapi itu mengejutkan. Itu bukan sesuatu yang aku harapkan darinya.

Bahkan jika keadaan tidak menyenangkan di rumah, dia sepertinya tidak melakukan sesuatu yang tidak berguna seperti kabur.

Menempatkan jarak antara dia dan hal-hal buruk, menunggu hal yang paling buruk lewat  itu bukan adikku.

Sesuatu yang benar-benar mengerikan pasti terjadi, pikirku dengan cemas, lalu cepat-cepat menyingkirkan pikiran itu dari kepalaku.

 

Tidak ada hubungannya denganku, kataku pada diri sendiri.

Tentu saja, itu tidak benar, tapi aku terserap dengan masalahku sendiri.

 

“Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa sampai kesini?”, tanyaku. Dia menjawab dengan tipikal, “Apa itu penting?”

Dia benar. Itu tidak penting. Aku hanya bertanya sesuatu yang tidak penting seputar masalah ini.

 

“Kamar yang kotor,” katanya sambil melihat sekeliling. Dia adalah seorang ahli dalam menilai kakaknya. “Dan seleramu sungguh menyebalkan.”

“Keluar jika kau tidak menyukainya.” Aku menjawab seperti biasanya.

“Aku tidak mengatakan itu.”

“Jadi itu memang kotor dan seleraku memang menyebalkan, tapi kau tidak membencinya?”

“Benar. Bau, kotor, jelek, tapi aku tidak bilang aku membencinya. ”

 

Adikku di kehidupan yang pertama akan membersihkannya tanpa bicara sepatah kata pun dan menyiapkan beberapa makanan enak untuk kita berdua.

Tapi adikku yang sekarang tidak benar-benar ingin datang ke tempatku. Seperti diriku, dia mungkin tidak punya banyak teman, jadi ini adalah satu-satunya pilihan tempat untuk kabur.

 

Liburan musim dingin belum dimulai, jadi kupikir dia tidak akan tinggal lama. Meskipun begitu, dia mengganggu dan aku bertanya-tanya apakah aku bisa membuatnya pergi lebih cepat.

Tapi aku tidak punya nyali untuk bersikap kasar padanya. Di kehidupanku yang kedua, aku benar-benar pengecut.

Dan adikky cukup menakutkan. Dia selalu memiliki kemarahan yang tajam di dalam dirinya.

Rasanya seperti balon aku harus sangat berhati-hati untuk tidak memecahkannya, dan itu membuat perutku bergetar.

 

Aku tidak berdaya menghentikan adik perempuanku untuk tidak merusak barang di apartemenku, jadi aku mengeluarkan sebuah futon dari lemari untuknya.

Saat itu, dia keluar dari bak mandi, mengenakan piyama, dan mengeringkan rambutnya. Ketika melihat kasur dan tempat tidur, dia tanpa ragu memilih kasurnya setelah dua detik.

Dia sudah menganggapnya seperti kamarnya sendiri.

 

Dengan enggan aku masuk ke futon dan bertanya, “Berapa lama kau berencana untuk diam di sini?”

“Entahlah,” katanya sambil menarik selimut.

 

Dengan begitu kami mulai hidup bersama, dengan cara yang sangat dipaksakan.

 

 

* 27 *

 

Sekitar jam delapan pagi, adik perempuanku membangunkanku.

Karena kita berbicara tentang diriku, aku benar-benar melupakan adik perempuanku saat aku tidur. Orang akan mengira akan terkejut melihat seorang gadis di kamarku, tapi anehnya aku tidak begitu.

Dengan tenang, aku teringat keadaan adik perempuanku berada di sana.

 

Sebelum mataku terbangun bahkan sepertiganya terbuka, adik perempuanku berkata “Bawa aku ke perpustakaan.”

Setelah terdiam beberapa saat, dia menambahkan “sekarang juga.”

 

Dia tampak cukup siap untuk keluar. Aku tidak pernah melihatnya berpakaian santai dalam waktu lama.

Dia duduk di tempat tidur, tangannya tertancap di kantong kardigan abu-abunya, kakinya bergoyang-goyang keluar dari celana pendek biru navy-nya, dan rambutnya yang lebar dan lembut bergoyang mengikuti gerakan itu.

Kakinya sangat kurus, hampir tampak kaki buatan dengan celana ketat hitamnya.

 

Dengan enggan aku bangun dari tempat tidur, mengambil beberapa pakaian kering yang terlepas dari gantungan baju dan memasukannya ke bawah lenganku, menuju kamar mandi.

Air wastafel cukup dingin untuk membunuh seseorang gara-gara shock, tapi butuh beberapa menit untuk mendapatkan air hangat. Jadi aku mencuci muka dengan air dingin dan dengan cepat mengganti pakaian.

Astaga, ini apartemenku sendiri. Kenapa aku harus diam-diam ganti baju seperti ini?

 

Aku mengeluarkan beberapa desahan besar. Aku tidur tidak lama setelah adikku, tapi akhirnya tidak banyak tidur.

Seperti banyak penyendiri, aku adalah burung hantu malam, jadi jadwal “tidur jam satu pagi, bangun jam 8” cukup melelahkan untukku.

Selain itu, selama beberapa tahun terakhir, aku sudah tidur lebih banyak daripada yang aku lakukan dalam kehidupan pertamaku. Jika aku tidak tidur sekitar sepuluh jam, aku akan kacau.

Yah, mungkin lebih seperti aku secara tidak sadar tidur lebih banyak karena alasan kesehatan, tapi karena waktuku saat terbangun sangat keras.

 

Aku penasaran. Mungkinkah manusia hanya bisa bangun lebih awal saat mereka memiliki acara TV yang ingin mereka tonton, ataupun keluar untuk berkencan.

Itu berarti bangun pagi membuat hidup jadi lebih baik, tapi jika kau bertanya kepadaku, ini memiliki kehidupan yang baik yang memungkinkan Kau bangun pagi-pagi.

 

Tentu saja, meski aku bisa menghilangkan tiga jam alarm sekaligus, membuat seorang gadis mengguncang aku terbangun akan membangunkan aku baik-baik saja.

Bahkan jika dia adalah saudara perempuan aku yang tidak sesuai dengan aku, yang sedang bolos sekolah, yang melarikan diri dari rumah, itu tidak membuat perbedaan.

Ini pertama kalinya aku merasakan seperti ini dalam beberapa saat aku terbangun dengan cara yang manusiawi. Sudah biasa aku jatuh tertidur satu atau dua kali sebelum benar-benar bangun.

Dan bahkan setelah itu, aku sering berbaring di tempat tidur aku membaca atau bermain-main dengan teleponku, jadi jika kau ingin lebih akurat, biasanya dibutuhkan sekitar sepuluh langkah untuk aku bangun dari tidurku.

Jadi ya, adikku membangunkanku dan aku langsung bangun dari tempat tidur adalah masalah yang cukup besar.

 

Sekarang bahkan belum bulan Desember, tapi udara terasa dingin seperti saat sudah pertengahan musim dingin.

Saat kami hendak pergi, aku menyadari betapa ringannya adikku dan mengambil mantel untuknya.

… Ketika aku mengatakannya seperti itu, sepertinya aku adalah seorang kakak yang penuh perhatian, huh? Tapi blak-blakan saja, aku hanya melakukannya agar terlihat tidak terlalu mengerikan.

Motivasi terbesarku adalah bahwa aku takut disalahkan.

 

Adikku menatapku sambil memegang mantelnya seolah mengatakan “Pakai sendiri,” lalu menyambarnya dariku.

Lengannya agak terlalu panjang untuknya, tapi mantel itu sangat ramping, jadi tidak terlihat terlalu aneh.

Aku mengenakan mantel yang kugunakan sejak SMA, dengan malas mengikat tali sepatu di sepatu botku, dan membuka pintu.

Angin dingin mengenai kulitku, dan dalam beberapa detik aku menggigil. Kami masuk ke dalam mobil, aku menaikan suhu panasnya, dan kami duduk bersama sampai kami hangat.

 

 

* 28 *

 

Kata-kata pertama adikku saat duduk di kursi  Mini Cooper adalah “bau rokok.”

Itu bukan salahku. Ayahku yang biasa mengendarainya, dan sejak mobilnya diberikan padaku, baunya sudah seperti itu.

Sambil duduk di kursi belakang, kata-kata keempatnya adalah “Kotor.” Dan itu seratus persen ditujukan padaku.

Tempat duduk belakang berantakan: buku catatan dan bahan untuk kelasku, kantong plastik, botol air dan kotak bento kosong, bahkan jaket dan sepatu.

 

Ada kalanya aku duduk di dalam mobil dalam waktu lama saat menguntit doppelganger-ku, tapi masalah yang sebenarnya tidak ada yang lain kecuali aku yang pernah mengendarai mobilnya.

Jika aku punya seseorang yang secara konsisten aku antar, bahkan aku akan berusaha untuk menjaga mobilnya tetap bersih, mungkin.

Ini adalah hal yang sama seperti jika kau ingin menjadi modis, kau mengambil pekerjaan yang menempatkanmu di depan orang-orang.

 

“Benar-benar bau dan kotor,” ulang adikku.

“Memberitahumu keadaan tentang pemiliknya” adalah implikasinya. Adikku sungguh sesuatu.

 

Tapi aku akan mengatakan bahwa dia benar, bahwa kekacauan di apartemen atau mobil mencerminkan mentalitas pemiliknya.

Jika kau memiliki “+50 HP,” kau mungkin akan ribut karena hal-hal kecil untuk menaikannya sampai +51. Tapi jika kau berada di -50, itu seperti tidak ada yang layak untuk menaikannya -49.

 

Langit jam 9 pagi sedang berawan, dan semuanya diselimuti kabut tipis.

Adikku terus mengeluh saat di perjalanan ke perpustakaan.

Mengatakan bahwa mantelku bau rokok, dan bukankah itu membuatku ingin memainkan musik atau apapun?

Tapi jika aku memasukan CD-ku, aku tahu itu akan membuka gelombang keluhan yang baru.

Jika aku menginginkan persetujuan adikku, aku perlu menyetel musik yang beraliran seperti Sigur Rós atau Múm. Tapi sayangnya, aku tidak memilikinya.

 

Aku terus mengabaikan adikku, dan dia memukulku dengan kotak tisu. “Dengarkan apa yang orang katakan,” katanya.

Aku bersumpah, satu-satunya saat dia pernah sesombong ini adalah saat dia berduaan bersamaku. Jadi orang sombong hanya pada kakaknya. Pembual?

 

Kami sampai di perpustakaan kota. Dia bergumam “kecil amat” saat melihatnya, tapi setidaknya itu bukan keluhan yang ditujukan kepadaku.

Aku pernah ke sana untuk meneliti sesuatu untuk mengerjakan tugass kuliahku sebelumnya, jadi aku sudah punya kartu perpustakaan.

 

Aku berkata pada adikku “pilih buku mana pun yang kau suka,” dan hanya kali ini, dia dengan patuh mengangguk “oke” sebelum menghilang diantara rak buku.

Aku sendirian, aku juga mencari beberapa buku. Aku naik tangga sempit ke lantai dua, dimana setiap langkah tangganya berderit.

Ada seorang gadis muda duduk di kursi di antara rak buku di sepanjang dinding, sedang membaca buku yang besar.

Pada awalnya, aku mengira dia adalah sebuah patung dan memandanginya sangat lama. Ketika dia melirik ke arahku, akhirnya aku menyadari bahwa dia adalah seseorang dan segera pergi,

 

Ketika aku pergi memeriksa buku-bukuku dan melihat kalender, aku menyadari untuk pertama kalinya kalau sekarang adalah hari Rabu.

Memang, ketika kau tidak membuat rencana apapun dalam hidupku, indera tentang hari apa akan meninggalkanmu, bahkan mengaburkan batas antara hari-hari biasa dan hari libur.

Jadi bila sudah lumayan buruk, kau lupa hari apa minggu ini.

 

Jika ini hari Rabu, aku pikir, maka kelas seharusnya dimulai sekarang … Ini adalah kelima kalinya aku bolos. Oh, well.

Apapun, itu hal yang aneh, seorang mahasiswa dan adiknya yang masih anak sekolah mengunjungi perpustakaan pagi-pagi di hari sekolah.

Sebagian besar orang di perpustakaan sudah tua, jadi aku bertanya-tanya bagaimana mereka akan melihat kami?

 

Setelah sekitar setengah jam, aku pergi mencari adikku, dan menemukannya sedang bersandar di depan rak buku.

Aku bertanya “Sudah selesai?”, Dan dia memukulku dengan sebuah buku. “Tidak bicara di perpustakaan!”

Begitulah adalah adikku di kehidupan kedua secara singkat, kurasa. Adikku di kehidupan pertama kali pasti bilang “Oh, tunggu, tunggu sebentar lagi!”

 

Kira-kira dua puluh menit kemudian, kami akhirnya bisa pergi dari perpustakaan.

 

Tampaknya semua yang ingin dia lakukan hanyalah menghabiskan sepanjang hari membaca di apartemenku.

Begitu kami pulang, dia menjatuhkan dirinya di tempat tidur, duduk di dinding, dan menyibukkan dirinya pada sebuah buku setebal kamus.

Dia benar-benar berubah, pikirku. Tapi itu tidak mengherankan lagi.

 

Kupikir tidak apa-apa meninggalkan di apartemenku, jadi aku diam-diam pergi untuk keluar.

Dia melihat kearahku dan bertanya “Kemana kau pergi, kakak? Kuliah?”

Aku tidak bisa mengatakan, “Aku akan menguntit orang ini, aku ingin membunuhnya jadi aku bisa mempelajari kebiasaannya,” jadi aku hanya berkata “Ya. Aku akan pulang jam tujuh. ”

 

“Hmph,” gumamnya dengan curiga. “Tetap saja … terdengar agak menyenangkan. Mau ketemu seseorang yang kau kenal? ”

Jujur saja, itulah yang tidak aku ingin dia tanyakan.

“Seorang teman kuliah. Aku mengenal mereka saat festival bulan lalu.” kataku sambil memikirkannya.

Pada saat seperti ini, yang terbaik adalah berbohong dengan petunjuk tentang kebenaran.

“Aku tidak pernah bertemu seseorang dengan baik sebelumnya. Hanya saja, kami tahu pikiran kami satu sama lain, itu saja. Lumayan juga punya setidaknya seseorang seperti itu. Ya, mereka itu teman dekat. ”

“Hah. Atau setidaknya … itulah yang kau pikirkan tentang mereka, huh? ”

Man, ada sesuatu yang sangat tidak menyenangkan tentang bagaimana dia mengatakannya.

“Ya kukira begitu. Paling tidak aku menganggapnya sebagai teman dekat. ”

 

Tetap saja, itu aneh. Aku tidak berpikir dia akan peduli sedikit pun ke mana aku pergi,  dan apa yang sedang aku lakukan.

Apa dia kelaparan untuk ngobrol, mungkin? Atau mungkin saat aku pergi, dia berencana melakukan hal-hal yang tidak akan dia ceritakan pada siapa pun.

 

Aku sama sekali tidak tahu, dan aku tidak peduli.

Dia bisa melakukan apa yang dia suka. Aku punya hal-hal yang harus diperhatikan.

 

* 29 *

 

Aku ingin menyelesaikan masalah doppelganger ini dalam tahun ini.

Semakin lama aku membiarkannya terus berlanjut, semakin sulit untuk dieksekusi.

 

Selain itu, jika aku bisa membunuh Tokiwa sebelum Desember, mereka tidak akan menghabiskan Natal dan Tahun Baru bersama.

Tidak diragukan lagi, jika hari-hari menyenangkan itu datang dan aku teringat bagaimana kehidupan pertama ku dan Tsugumi menghabiskan bersama, aku akan terkena depresi terburuk.

Sebisa mungkin aku ingin menghindari hal itu.

 

Dan itu bukan proposisi yang mustahil. Saat ini, dengan untitan harianku, aku punya pemahaman yang sangat baik tentang aktivitas sehari-hari Tokiwa.

Sejujurnya, aku sudah lama berada dalam kondisi prima untuk melaksanakan rencananya. Tapi paling tidak sudah tiga kali, aku sudah melewatkan kesempatan untuk membunuhnya saat risiko sangat kecil.

 

Seperti yang aku perkirakan, kebiasaan Tokiwa sangat mirip denganku. Dia suka melihat ke bawah dari tempat-tempat yang tinggi, jadi berkali-kali dia berdiri di jembatan sambil memandangi sungai, atau di jalan curam di distrik perumahan di malam hari.

Menurutku, hampir seperti dia hanya meminta dirinya untuk dibunuh. Mungkin Tuhan ada di pihakku pada saat ini, pikirku.

Namun aku tidak bisa melaksanakan rencananya. Mungkin aku tidak bisa mengambil keputusan untuk mengambil risikonya.

 

Masalahnya, ada satu hal lagi yang aku cari setelah menguntitnyanya. Aku ingin melihat kesalahan Tokiwa.

 

Aku menunggunya menunjukkan semacam kecacatan dalam dirinya.

Untuk membenarkan tindakanku, aku ingin dia memberiku beberapa alasan, alasan untuk percaya bahwa dia adalah seseorang yang pantas untuk mati.

Kalau saja aku bisa menemukan sedikit pun alasan kenapa membunuh dia itu tidak sia-sia.

 

Tapi masalahnya, sudah sebulan penuh aku mencari-cari, tapi dia tidak menunjukkan apa-apa padaku. Bahkan tidak jadi angkuh karena kurangnya kesalahan dia.

Aku tak tahu apa dia bahkan menyadarinya, tapi Tokiwa tampak sangat berhati-hati dengan penampilannya.

 

Senjata terbesar Tokiwa adalah senyuman yang dipoles yang segera menghilangkan pertahanan siapa pun dan suara harmonis yang ingin didengarkan setiap orang, namun dia berani menyimpannya setiap saat.

Dan pada saat-saat kritis, dia akan membawa senyuman itu dengan cara yang ditargetkan, yaitu dengan meninggalkan kesan mendalam pada orang-orang di sekitarnya.

Tentu saja, orang memperhatikan. Tapi dia tidak pernah memberi mereka waktu untuk terbiasa dengan pesona itu; Dia menariknya kembali sebelum mereka melakukannya.

Dengan melakukan itu, dia membiarkan imajinasi orang membengkak, dan mereka mulai berpikir bahwa dia memiliki pesona yang lebih dari yang sebenarnya dia miliki.

 

Jujur, sungguh luar biasa. Ini mengajariku bahwa saat kau memiliki pesona yang terlihat, lebih baik untuk menunjukkannya dari waktu ke waktu seperti sebuah pengingat, daripada menahannya untuk diledakan.

Walaupun itu adalah teknik yang tidak berguna bagi seseorang yang tidak memiliki pesona, maupun yang tersembunyi atau sebaliknya.

 

Aku benci mengakuinya, tapi dia benar-benar seorang pria. Bahkan dengan segala kebencianku, aku masih menaruh rasa hormat untuknya.

Tidak diragukan lagi orang lain pasti melihat Tokiwa sebagai individu yang sangat menawan.

 

* 30 *

 

Jadi itu adalah hari lain untuk tidak melakukan apa-apa.

Ketika aku kembali ke apartemen dan membuka pintu, aroma makan malam yang lezat seperti yang hanya adikku bisa buat… adalah yang au harapkan, tapi aku hanya diberi tahu “Aku lapar, masaklah sesuatu.” Dia menambahkan lagi ” Sekarang juga.”

 

Aku benar-benar tidak banyak memasak, jadi aku hanya menghangatkan beberapa pai apel di kulkas dan meraup beberapa es krim vanilla.

Dia melihat pai apel itu dan bertanya “Bagaimana dengan sayurannya?” “Tidak punya,” kataku padanya, dan setelah berpikir, dia berkata “Itu tidak baik.”

Dia mungkin bermaksud mengatakan “Apakah kau bodoh?”, Tapi sebagai seorang yang numpang, dia pasti memutuskan untuk menahan diri.

 

Setelah minum kopi setelah makan, dia menatap lurus ke arahku. Matanya mengatakan kepadaku “Aku ingin berbicara, tapi aku tidak ingin memulainya.”

Jadi aku mulai. “Ada apa?”

“Apa kau tidak punya pacar, kakak?”

Pertanyaan apa itu, pikirku.

“Sayangnya tidak.”

“… Maaf mengungkitnya, tapi apakah kau tidak pernah punya pacar?”

Aku punya kehidupan yang ideal di kehidupan pertamaku, aku ingin memberitahunya.

“Ya. Tak pernah.”

“Kenapa?”

Kenapa, dia bertanya … Itu  cara paling buruk untuk berbicara dengan seseorang tanpa cinta.

 

Dalam kehidupan keduaku, aku tidak bisa menahan diri untuk berpikir aneh bagai seseorang bisa menemukan cinta satu demi satu.

Diriku yang pertama tidak memikirkannya, hanya memikirkan gadis idealku di sisiku, tapi sekarang aku seperti, bagau semua orang menemukan seseorang yang sempurna untuk mereka?

 

Ya, di mataku, orang-orang punya pacar jauh lebih aneh daripada orang-orang tidak punya.

Jujur saja, kadang aku agak ingin mengatakan “Apa itu benar-benar akan baik-baik saja?” Bukannya ada yang mau mendengarnya, tapi menurutku dua orang yang hidup rukun sepanjang hidup mereka akan jadi kejadian yang sangat langka.

Misalkan ada banyak orang seperti itu yang sering terjadi. Bukankah mereka hampa, dalam arti tertentu?

 

Cara nilaiku terbentuk dari arah sepanjang hidupmu, ini seperti melukis gambar. Gambar itu terisi dengan apa yang membuatmu menjadi dririmu, jadi setiap orang pasti berbeda.

Jadi, jika kau dan foto orang lain cocok dengan sempurna, itu berarti kalian berdua hanya hanyalah kanvas kosong saja.

Atau bisa dibilang kau sangat tidak imajinatif, kau hanya melukis gambar paling membosankan yang pernah ada.

 

Tentu saja, aku tidak meyakinkan siapa pun dari apapun dari tempatku berdiri. Kurasa hanya sekedar keluhanku.

Aku hanya seorang penganalisis diri, yang sedang bosan, dan kesepian yang tidak pernah memikirkan siapa pun kecuali dirinya sendiri.

 

Benar, sampai dimana kita tadi … Adikku bertanya padaku “Kenapa?”

Nah, alasan nomor satu adalah bahwa aku tidak mungkin mempertimbangkan siapa pun kecuali Tsugumi sebagai pacarku sekarang. Tapi tidak ada gunanya mengatakan itu kepadanya.

“Tidak yakin apa ada alasan bagus apa itu,” kataku.

“Jadi kau bahkan tidak perempuan yang ditaksir?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Kau tidak bisa memikirkan seorang pun?”

“Kurasa tidak.”

“Kalau begitu … paling tidak gadis yang menyenangkan?”

 

Gadis yang menyenangkan, ya.

Hal itu membawa sesuatu ke dalam pikiranku.

Meski aku yakin itu tidak akan sesuai seperti adikku bayangkan.

 

* 31 *

 

Bagian dari cerita ini kembali ke saat dimana aku paling menderita. Yaitu SMA.

 

Tanpa melebih-lebihkannya, aku tidak punya satu teman pun di SMA di kehidupan kedua ini.

Tapi bukan berarti semua teman sekelasku membenciku. Masalahnya adalah kebanggaan bodohku.

Kau mungkin akan tertawa, tapi aku pikir teman adalah sesuatu yang akan berdatangan kepadaku. Tak ada hubungannya dengan kesombongan ataupun kebaikan, dan aku tidak membayangkan aku harus berbicara dengan mereka terlebih dahulu.

Kehidupan pertamaku adalah pengaruh buruk. Dulu aku terbiasa terlalu populer.

 

Tentu saja, meski sebagai alat yang paling tidak tajam dalam gudang pun, akhirnya aku menyadari bahwa yah, aku tidak akan berteman tanpa memulai pembicaraan.

Dan saat aku sadar, aku memang punya sisa kesempatan. Aku bisa membicarakan apapun pada mereka yang nongkrong di sudut jalan, jika aku pergi dan berbicara dengan mereka, dengan mudah akan menerimaku sebagai teman.

 

Tapi akhirnya, aku tidak melakukannya. Kenapa? Kebanggaan lamaku yang tentu saja.

Itu adalah hal paling bodoh, aku setuju denganmu. Tapi aku lebih baik mati daripada berbicara dengan badut-badut itu.

Aku selalu menganggap diriku sebagai pria yang tampan. … Yah, jujur, aku sama sekali tidak yakin akan hal itu sekarang.

Tidak pernah memikirkan seberapa benarnya itu sekarang, itulah apa yang aku pikirkan, dan itu membantuku sedikit adil.

Lagi pula, jika tidak ada yang akan mencintaiku, aku harus mencintai diriku sendiri bukan?

 

Ngomong-ngomong, intinya, aku pikir pria tampan sepertiku memulai percakapan dengan orang bodoh itu tidak wajar.

Tentu, dari sudut pandang mereka, aku pasti tampak seperti orang yang lebih bodoh.

 

* 32 *

 

Kau akan tahu itu jika kau merasakannya sendiri, tapi masa SMA tanpa teman sejujurnya seperti neraka.

Kuliah, sebagai perbandingan, bukan masalah besar sendirian.

Sering dikatakan bahwa kesepian adalah sesuatu yang kau bisa terbiasa, dan isolasi adalah sesuatu yang tidak bisa.

Hal-hal seperti menghabiskan liburan sendirian yang bisa kau tahan berhari-hari tidak masalah, tapi bila ada orang di sekitarmu dan kau adalah satu-satunya penyendiri … Kau tidak bisa hanya melumpuhkan dirimu akan hal itu.

 

Lalu bagaimana aku menanggung situasi yang menyedihkan seperti ini? Lagi-lagi dengan cara yang payah.

 

Ada satu gadis di kelas yang juga terisolasi, namanya Hiiragi. Dia juga tidak punya teman untuk namanya.

Dia tampak seperti dia selalu berpikir “Aku tidak berharap apa pun dari dunia ini lagi,” dengan enggan melewati masa SMA. Begitulah Hiiragi.

 

Aku akan mengatakan dengan singkat bahwa dia, dengan mata yang mudah terluka. Dia selalu melihat ke bawah, dan ketika dia harus melihat orang-orang di matanya, dia seperti melotot.

Dan dengan suaranya yang lemah dan tidak percaya diri, dia sering berbicara dengan cara yang terputus-putus. “Aku, uh, pikir tak apa-apa. … T-tidak, itu tidak … masalah. ”

Tampaknya dia berusaha keras untuk memilih kata-kata yang paling rata-rata dan tidak provokatif saat dia berbicara, tapi hal itu membuat orang-orang melihatnya sebagai orang pengganggu.

Aku sendiri, Aku bicara terus terang sehingga aku tidak perlu banyak bicara. Sekilas, kami berlawanan, tapi berasal dari akar yang sama.

 

Hiiragi berasal dari SMP yang sama denganku, dan sama sepertiku, dengan begitu dia sama sekali tidak sendirian. Dia mengikuti pola yang sama untuk dipisahkan dari teman-temannya dalam masa transisi ke masa SMA.

Ketika aku diabaikan di kelas, aku merasakannya dengan sangat parah. Dan itulah saat aku menoleh ke Hiiragi.

Hiiragi, satu-satunya sekutuku. Melihatnya sendirian di sudut kelas adalah sebuah hiburan besar bagiku. Setidaknya aku bukanlah yang satu-satunya, aku bisa berpikiritu sangat melegakan.

 

Tidak, itu tidak benar. Jika kau ingin tahu yang sebenarnya, berkat adanya Hiiragi, aku bisa meyakinkan diriku bahwa aku tidak berada di titik paling rendah di kelas.

“Aku benar-benar malang, tapi lebih baik daripada dia,” pikirku untuk menjaga agar tetap stabil. Sungguh hal yang menyedihkan untuk dilakukan.

 

Namun … Ini bisa jadi hanya kesanku yang salah, tapi aku pikir dia melakukan hal yang sama denganku.

Dalam situasi yang membuat kami lebih sadar akan isolasi kami, seperti aktivitas kelas dan persiapan acara, Hiiragi dan aku akan melakukan kontak mata.

Tidak diragukan lagi Hiiragi menatapku sebagai satu-satunya orang yang lebih rendah darinya.

Atau paling tidak aku merasa yakin bahwa saat dia menatapku, dia merasa yakin dengan pemikiran “Ah, dia juga terisolasi.”

 

Jadi, dalam hal ini, aku mungkin berani mengatakan bahwa kami “berhasil melakukannya.” Dalam definisi yang sangat terpelintir tentang itu. Kami saling mengkambing hitamkan satu sama lain.

Aku memandang rendah dirinya, berpikir “Dia berada di tempat yang sama, tapi sebagai perempuan dia pasti lebih parah!”; dia memandang rendah diriku berpikir “Dia berada di tempat yang sama, tapi aku masih lebih baik di bidang akademis” … Begitulah situasinya.

Mungkin ini hanya omongan dari persecution complex[3]-ku, tapi kau pasti tahu hanya dengan sekali melihat matanya. Mereka bisa dinilai dari matanya. Aku tahu, karena aku juga sama.

 

Pada tahun pertamaku, sebelum aku terbiasa sendirian, saat jam makan siang berdering aku akan bergegas ke perpustakaan untuk menghabiskan waktu untuk belajar.

Dan sebenarnya, Hiiragi sering melakukannya juga. Kami sering sering bertemu. Itu tidak seperti kami berbicara atau bahkan saling menyapa, tapi kami saling mengakui keberadaan masing-masing.

 

Setiap beberapa bulan sekali aku akan terkena depresi berat, kapan pun aku pergi ke UKS (meski tidak sakit secara fisik) dan bolos kelas siangku.

Nah, sekitar sepertiga dari waktuku melakukannya, Hiiragi juga ada di sana pada saat yang  bersamaan. Rasanya canggung  sepertinya kami memutuskan untuk bolos bersama.

Tapi ada banyak tumpang tindih antara kelas yang masing-masing ingin kami hindari, jadi itu tidak masuk akal.

 

Selanjutnya, hubunganku dengan Hiiragi jadi semakin dekat di tahun kedua.

Guru wali kelas kami mengatur perubahan tempat duduk; siswa bisa memilih untuk mengundi kursi mereka, atau memilih sendiri.

Namun, mereka yang dengan bebas memilih tempat duduk mereka dilarang duduk di barisan belakang.

 

Wajar, orang-orang yang berakhir di barisan belakang adalah orang-orang yang tidak terlalu peduli dimana mereka duduk. Dan untuk orang-orang yang tidak punya teman, setiap kursi di pojok juga tak masalah.

Jadi Hiiragi dan aku selalu berakhir duduk bersama. Mungkin sudah hampir sepuluh kali, jika ditambah tahun kedua dan ketiga.

 

Orang-orang mulai melihat kami sebagai pasangan, dan aku dengan sedih berpikir “Whoa, jangan pasangkan aku dengannya.”

Meskipun yang akan aku katakan adalah duduk di sampingnya membuatku merasa nyaman.

Misalnya, dalam kelas sastra klasik atau kelas bahasa Inggris, kau sering harus membaca dengan pasanganmu bukan?

Itu biasanya membuatku kesal, tapi saat Hiiragi menjadi partnerku, aku tidak begitu gugup.

 

Ketika berpasangan dengan orang lain, aku khawatir suaraku berdecit, atau sikapku terlalu bodoh, atau jika mereka marah karena dipasangkan denganku, dan semua omong kosong itu.

Tapi dengan Hiiragi, aku hanya bisa berpikir “Gez, dia sangat tidak ramah” berbicara seperti pot yang memanggil ketel hitam.[4]

 

Akar segala sesuatu yang menenangkan kami adalah rasa yakin, perasaan bahwa “tidak akan menyakitiku.”

Dalam hal ini, Hiiragi menenangkanku seperti tak ada tidak lain.

 

* 33 *

 

Jika menyangkut hal ini, kau mungkin mengira aku adalah orang brengsek yang terlalu sadar akan asumsi-asumsinya.

Dan aku mengatakan ini dengan penuh pengakuan akan hal itu: Aku percaya Hiiragi dan aku hidup dengan saling bersandar satu sama lain.

 

Pada tahun ketiga kami, saat kami tidak menunjukkan banyak hal itu, kami mulai memilih komite dan tugas yang sama.

Bahkan saat kursi kami berubah, kami mencoba duduk sedekat mungkin. Ada kesepakatan  bahwa ketika masa sulit, kita akan “menggunakan” satu sama lain.

“Kau tidak benar-benar harus berteman denganku, tapi kumohon beradalah di sisiku saat aku membutuhkan seseorang,” hal semacam itu. Ah, tapi aku buatnya terlalu romantis…

Ini mungkin lebih sepertu “Hei, kamu penyendiri juga kan? Sebagai sesama orang sengsara, kurasa kita harus tetap bersekutu. ”

“Yah, setidaknya orang ini tidak akan membuangku dan lari”  hubungan kami memiliki semacam sesuatu yang dibungkus kepercayaan.

 

Kami akhirnya  berkembang   bukan cinta, tentu saja, tapi semacam simpati pada satu sama lain, kurasa.

Jika tidak, pasti kami tidak akan tetap bersama untuk menjaga diri kami sendiri dari kesendirian.

 

Dan isolasi bukanlah satu-satunya hal yang biasa antara Hiiragi dan aku. Bahkan kualitas isolasi kami memiliki kemiripan.

… Apa yang aku pikirkan, alasan mengapa kami tidak terbiasa dengan kelas adalah karena kami berdua memiliki pemikiran tentang “suatu tempat yang bukan di sini.”

Terlintas dalam pikiran bahwa ada “tempat yang jauh lebih baik daripada di sini” di suatu tempat, dan ini menjadi penghalang besar karena kami “di sini.”

 

Aku terus memikirkan hari-hari bahagia kehidupan pertamaku. Dengan begitu, pandanganku tentang dunia lebih kusam dari biasanya, dan aku memiliki sedikit keterikatan pada “di sini dan saat ini.”

Dan aku penasaran apa Hiiragi mungkin memikirkan sesuatu yang serupa  Kenapa dia begitu terisolasi?

 

Aku yakin orang yang bisa melihat senyumnya cukup langka, tapi aku salah satu dari yang sedikit bisa melihat senyumnya. Setelah tiga setengah tahun, kami bisa sedikit berterus terang.

Dan secara kebetulan, hanya sekali, aku bisa menyaksikan senyumannya.

 

Sayang sekali, pikirku. Jika dia selalu tersenyum seperti itu, aku yakin tidak akan sulit baginya untuk menjadi pusat perhatian di kelas.

Itulah jenis pesona senyumnya. Saat pertama kali melihatnya, sungguh, aku kaget. Semua seperti “Tunggu, kau semanis itu?!”

 

 

* 34 *

 

Hari aku bisa melihat senyum Hiiragi adalah di musim dingin tahun ketigaku di SMA, pada hari kami menjalani latihan wisuda.

Yang berarti, ya, selama tiga tahun penuh bersamanya, aku tidak pernah melihat sebuah senyuman muncul dari bibirnya.

 

Kelulusan … Yah, aku akan ragu mengatakan bahwa ini adalah acara emosional untuk saya.

Tidak ada yang menyedihkan meninggalkan sekolah itu, tapi aku juga tidak terlalu senang. Aku hanya berpikir “Sungguh tiga tahun yang mengerikan.”

Aku punya begitu sedikit keterikatan dengan sekolah yang aku jalani sehingga aku hampir bertanya-tanya apakah aku benar-benar siswa di sana.

 

Aku terus memikirkannya, dan aku bahkan tidak ingin pergi latihan lagi.

Saat semua orang menuju gym, aku menyelinap keluar dan pergi ke ruang musik.

Pintunya selalu terbuka lebar. Pada tahun ketigaku, aku menghabiskan banyak waktu istirahat makan siang di sana.

 

Aku menunggu latihannya selesai di sana. Jika seseorang yang hampir tidak tampak tidak hadir, sama sekali tidak ada yang memperhatikannya.

Tentu saja, sekarang aku tidak peduli apa pendapat orang tentangku. Lagipula, sudah hampir kelulusan.

 

Ruang musik sangat gelap bahkan di sore hari. Jika kau menutup pintunya, butuh beberapa saat agar matamu bisa menyesuaikan diri.

Itu adalah bagian dari alasan  kenapa aku menyukai tempat itu. Aku juga menyukai instrumennya, sekali di barisan depan, sekarang membusuk di sini.

Banyak “instrumen yang tidak akan kami gunakan lagi, tapi sayang jika membuangnya.”

 

Duduk di kursi tegak, menyandarkan sikuku di sampul keyboard, aku menatap ke luar angkasa.

Butuh waktu hampir lima menit untuk menyadari Hiiragi di sudut penglihatanku.

 

Saat mata Hiiragi dan aku bertemu, aku tidak bisa mengingat siapa yang pertama tersenyum. Kami selalu terlihat masam, tapi untuk beberapa alasan kami tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum di sana.

Kurasa kami merasa lega mengetahui ada orang lain yang tidak merasakan apa-apa saat kelulusan sudah datang, dan merasa lucu bahwa kami berdua berusaha melarikan diri darinya.

 

Reruntuhan dari sesuatu yang hilang  itulah gambaran senyum Hiiragi yang tertanam di kepalaku.

Seperti dulu pernah ada kejadian yang sangat menakjubkan, dan saat sekarang benar-benar hancur, dia menghargai sebagian reruntuhannya  agak seperti itu.

 

Tentu saja, begitu kami saling tersenyum, kami segera membuang muka dan pergi untuk melakukan hal-hal yang kami sendiri.

Aku berjuang untuk memainkan gitar klasik berlapis debu tanpa string pertama, dan dia memainkan organ elektronik yang telah diatur dengan volume rendah.

 

Aku tidak kaget melihat Hiiragi bermain seperti itu sudah biasa.

Ada toko CD bekas di dekat tempat yang sering aku kunjungi sepulang sekolah, tidak ada di klub mana pun. Dan saat aku berdiri di sana dengan sebuah CD di tangan sambil menatap sebuah sampul, Hiiragi akan berdiri di belakangku melakukan hal yang sama  konyol, tapi itu terus terjadi.

Karena hanya ada sedikit ruang di antara rak-rak di tempat itu, masuk akal jalan kami akan kusut. Tapi kami tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun tentang hal itu.

 

Aku melihat Hiiragi memainkan organnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi bahkan dari punggungnya saja, aku akan mengatakan bahwa dia sedikit lebih tenang dibanding saat di kelas.

Harus kuakui, semunya menjadi hangat di antara kami. Kamu mungkin akan berpikir wajar bahwa setelah semua ini, kami akan berteman.

Tapi seperti yang telah aku katakan sebelumnya, sampai akhir, Hiiragi dan aku tidak pernah memiliki percakapan pribadi.

 

Mengapa kami selalu berada di tempat yang begitu jauh?, pikirku. Paling tidak untuk bagianku, aku mungkin bisa menjelaskannya sebagai sebuah kurangnya kepercayaan.

Namun, aku tidak curiga terhadap Hiiragi. Yang tidak bisa kupercayai adalah, seperti biasa, rasa sayang orang-orang.

Karena aku sudah berpisah dari Tsugumi, yang sangat kucintai dan sebaliknya di kehidupan pertamaku. Itu menghancurkan segalanya.

Tidak peduli seberapa akrabnya kami, mereka suatu hari nanti bisa meninggalkanku. Jadi aku takut untuk bahkan mencoba terlibat secara mendalam dengan siapapun.

Semakin ramah orang itu, semakin aku takut akan pengkhianatan mereka. Jadi, aku menjaga jarak cukup jauh dari Hiiragi.

 

Itu sama bodohnya dengan mengatakan bahwa kau tidak akan pernah menikah karena kau tidak ingin bercerai.

Tapi aku tidak akan berubah pikiran. Hubungan di mana kami tidak terlalu terikat, hanya saling memandang rendah satu sama lain dari kejauhan, tampak lebih baik bagiku.

 

Aku ingat bahwa setelah itu, kami berdua dimarahi oleh seorang guru karena bolos latihan tersebut.

“Kalian pikir  kalian bisa melakukan apapun yang kalian suka karena kelulusan yang akan datang?” Dan seterusnya, “Bagaimana kalian bisa kuliah di perguruan tinggi?” Dan seterusnya.

Aku mendengarkan dalam keheningan dengan kepalaku menunduk, mempermalukan diriku sendiri dengan pemikiran bahwa guru mungkin salah mengira ada hal romantis antara Hiiragi dan aku. Hiiragi juga melihat hal yang sama.

Sungguh bodoh, waktu yang bodoh , masa SMA.

 

Saat hari kelulusan keesokan harinya, Hiiragi dan aku meninggalkan kelas tepat setelah sapaannya. Kami satu-satunya yang meninggalkannya lebih awal, dan karena kami berdua yang berada di aula, kami secara alami melakukan kontak mata.

Aku merasa aku melihat mulut berkata “Sampai jumpa.”

 

Itu tentang ingatanku tentang Hiiragi.

Dan bagaimana tidak, tentu saja aku tidak pernah menemukan gadis mana pun yang “menyenangkan.”

 

 

* 35 *

 

“Kalau begitu … paling tidak apa ada gadis yang menyenangkan?”

Akhirnya, aku tidak menjawab pertanyaan adikku.

Penjelasan ini mungkin tidak cukup, tapi … ketika sampai pada pemikiran subyektif tertentu, mereka kehilangan sihir yang mereka rasakan ketika kamu memberi tahu mereka kepada orang lain. Aku tidak menginginkan itu.

 

Jika aku ingin agar sihir itu tetap hidup, aku harus memilih kata-kataku dengan sangat hati-hati, ceritakan kisahnya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahan.

Tapi pada saat itu, aku tidak memiliki kemauan atau energi untuk itu, jadi aku tutup mulut saja.

Dan selain itu, berbicara tentang Hiiragi berarti menyentuh hari-hari SMA-ku yang mengerikan, jadi aku sama sekali tidak tertarik.

 

Adikku dan aku selesai makan malam dan duduk di tempat tidur bersama, membaca buku-buku kami dari perpustakaan.

Aneh rasanya saling berdekatan, tapi memang itu tempat terbaik untuk membaca di apartemen.

Dia telah menarik colokan di TV, jadi yang kudengar hanya ada beberapa halaman yang dibolak-balik dan pemanas yang menyala.

Untungnya, penyewa lain di sini membuat sedikit kebisingan sepertiku. Itu adalah berkah bagi seseorang yang sangat sensitif seperti diriku.

 

Aku sedang membaca buku tentang doppelgangers.

Dikatakan bahwa mereka memiliki karakteristik sebagai berikut.

 

– Mereka tidak berbicara dengan orang di sekitar mereka.

– Mereka muncul di tempat yang sama seperti yang aslinya.

– Jika yang asli bertemu doppelganger mereka, mereka akan mati, dan doppelganger akan menjadi asli.

 

Seperti yang bisa kau katakan dengan sedikit berpikir, semua ini diterapkan bukan pada Tokiwa, tapi padaku.

 

Aku tidak punya teman dan jarang berbicara dengan siapapun.

Kami pergi ke universitas yang sama, jadi kami tampil di tempat yang sama.

Jika salah satu dari kita harus mati, itu pasti dia (karena aku akan membunuhnya).

Dan dia tampil seperti aku dari kehidupan pertamaku.

 

Mengingat ini, apakah dia yang asli dan aku adalah si doppelganger?

 

Aku mendongak dari buku dan melihat adikku mengintip ke arahku. Dia penasaran dengan apa yang sedang aku baca. Lagipula, membaca bukanlah karakterku.

Aku bertanya kepadanya, “Apa yang sedang kau baca?”

“… Kau tidak akan tahu jika aku memberitahumu,” katanya.

Kedengarannya pahit, tapi memang benar. Aku melihat sampulnya, dan itu ditulis oleh seorang penulis yang belum pernah aku dengar.

 

Tetap saja, aku bertanya-tanya, apa masalahnya dengan pertanyaan tadi? Tentang memiliki pacar dan gebetan…

Memikirkannya, sungguh ajaib dia akan bertanya kepadaku tentang semua orang tentang hal seperti itu.

Adikku di kehidupan kedua sama sekali bukan gadis yang peduli dengan kehidupan cinta kakaknya. Sebenarnya, dia sengaja menghindari hal itu.

 

“Apa-apaan dengan pertanyaan itu?”, Tanyaku, mataku masih ada di buku.

Alih-alih menjawab, dia bertanya kepadaku, “Kak, apa kau punya teman?”, Berbalik ke arahku dan menarik kakinya ke bawah.

“Selain ‘teman yang kau buat bulan lalu di hari festival’ atau apa, teman lain, seperti yang bisa kau undang ke sini?”

 

Itu adalah pertanyaan yang menyakitkan untuk didengar. Tolong jangan tanyakan itu, pikirku.

Dan cara dia menguraikannya, dia sepertinya tahu bahwa apa yang aku katakan kepadanya tentang “teman dekatku” adalah sebuah cerita yang penuh dengan kebohongan. Sungguh, aku merasa sangat dikalahkan.

 

“Tidak ada teman yang bisa aku undang,” jawabku, namun berani mengatakannya sedemikian rupa sehingga menyiratkan bahwa aku mempunyai teman lain.

Dan tentu saja, adik perempuanku mendorong lebih jauh ke titik yang ingin paling tidak ditanya “Kalau begitu, apakah kau punya teman yang tidak bisa kau undang?”

 

Sekarang aku harus menjawab dengan jujur. “Tidak, tidak ada teman. Aku malu mengatakan tidak satu pun. … Dan orang yang aku kenal di festival itu juga adalah kebohongan. Tuhan, seharusnya aku mengatakannya sejak awal. ”

 

Aku membayangkan adikku mengolok-olokku. Menyiramku  dengan komentar pedas seperti “Kau pikir kau akan berhasil masuk ke masyarakat?” Dan “Dan kau tahu kenapa kau tidak punya teman?”

Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya tidak menunjukkan cemooh atau pelecehan seperti itu.

 

“Hah. Jadi sama denganku, kalau begitu. ”

Dan dengan itu, dia kembali ke bukunya.

 

Sampai ke batas, aku bisa menduga bahwa adik perempuanku tidak punya teman, tapi sangat mengejutkan bahwa dia akan mengungkapkannya kepadaku secara terbuka.

Aku bingung. Aku mencoba memikirkan semacam jawaban untuk itu. Karena memang aneh kalau adik yang di kehidupan keduaku akan memberitahu hal seperti itu kepadaku.

Seharusnya ada beberapa arti penting dibalik itu.

 

Dia mengatakannya dengan sangat santai, namun aku yakin itu membutuhkan keberanian. Maksudku, dia biasanya sangat enggan menunjukkan kelemahannya.

Jika aku tiba-tiba bertanya padanya “Honoka, apa kau punya teman?”, Dia biasanya memberikan jawaban seperti “Dan apa yang kau rencanakan dengan informasi itu?”

 

Tapi sebelum aku bisa mengatakan sesuatu yang bijaksana, dia meletakkan penanda dan merangkak di bawah selimut.

Dia mengusirku dari tempat tidur”Aku akan tidur sekarang” dan menarik selimutnya di atas kepalanya.

Dia tampak seperti marah, tapi dia juga terlihat seperti depresi.

 

Kira-kira tiga puluh menit kemudian, saat aku yakin dia tertidur, aku pergi keluar dan merokok, menggigil di bawah lampu jalan.

Aku tidak tahu perbedaan antara napas dinginku dan asapnya.

 

Aku memikirkan kata-kata adikku.

Mungkin dia mengunjungi apartemenku karena kesepian, pikirku. Tentu saja, aku tidak berpikir dia cukup “sayang” untuk itu.

Tapi untuk adik perempuan di kehidupan pertamaku, itu akan menjadi motif yang masuk akal. Dan pada dasarnya mereka adalah orang yang sama.

 

Teman, ya.

Aku mengambil satu embusan terakhir dan mengeluarkan rokoknya. Asap itu melayang dan menghilang sekitar dua meter di udara.

 

* 36 *

 

Ingatanku tidak sepenuhnya jelas mengenai hal ini, tapi aku punya begitu banyak teman yang bisa aku kenalkan di kehidupan pertamaku sehingga sekarang tidak dapat dipercaya lagi.

Paling tidak, aku rasa aku bersahabat dengan hampir semua orang di departemen dan klubku. Dan saat itu, aku melihat masing-masing memiliki kualitas bagus.

Tapi sekarang, melihat mereka dari kejauhan, mereka semua tampak seperti orang baik. Kebanyakan dari mereka tampak sama sekali tidak disukai.

 

Tentu saja kau akan melihat orang-orang yang memiliki hubungan denganmu sebagai orang baik, dan orang-orang yang kau tidak anggap sebagai orang jahat.

Anehnya, pikiran itu menghiburku. Hah. Jadi diri pertamaku tidak begitu diberkati dalam segala hal, pikirku.

Sengsara seperti itu, aku menemukan kebahagaiaan dalam hal itu.

 

Diri pertamaku yakin semua teman kuliahnya adalah orang-orang hebat. Dia dengan sungguh-sungguh berpikir “Aku sangat beruntung dikelilingi oleh semua orang baik ini di kampus.”

Tapi dari sudut pandangku, mereka semua makhluk rendahan dalam satu hal atau hal lain.

Orang yang biasa aku anggap sama baiknya adalah ego besar. Orang yang dulu aku anggap rendah hati adalah pencari perhatian.

 

Namun, aku hanya berspekulasi, tapi menurutku tidak salah jika aku merasa bahwa mereka adalah orang baik dalam kehidupan pertamaku.

Bila hidupmu tidak berjalan dengan baik, kau memiliki pandangan negatif tentang segala hal, jadi keburukan akan menonjol  tentu saja, pastinya masih ada di sana. Tapi itu bukan satu-satunya.

 

Aku bertanya-tanya, jika kau menempat seseorang di depan orang yang benar-benar hebat, Bisakah mereka untuk sementara menjadi orang yang lebih baik dengan pengaruh tidak sadar?

Mungkin saat mereka berdiri di hadapanku di kehidupan pertamaku, mereka benar-benar orang baik.

Tapi di depan orang-orang seperti sekarang ini, mereka akan merasa kurang tertekan dan kembali ke tempat sampah.

 

Aku tidak terlalu yakin apa yang sedang aku coba buat, tapi begitulah.

Mungkin jika kau merasa seseorang bukan orang baik, kau harus bertanggung jawab atas hal itu.

 

Namun ada orang-orang yang tampaknya lebih banyak mendapatkan pesona terlepas dari hubungan mereka … Tentu saja, aku sedang memikirkan Tsugumi.

Hal yang lebih tak terjangkau adalah, semakin kau menginginkannya. Aku percaya bahwa di kehidupan keduaku, aku datang untuk mencintainya lebih dari yang dari diriku di kehidupan pertama.

Ya, tidak berlebihan jika menyebutnya pemujaan.

 

Aku tidak yakin bisa mengatakan apa yang paling menawan tentang dirinya. Aku akan mempertimbangkan setiap hal kecil yang membuatnya menawan, tapi aku melihat dengan kacamata orang yang jatuh cinta.

Aku bisa berbicara tentang “senyuman seperti bunga yang mekar,” tapi kepalaku yang mekar saat melihatnya.

Karena pikiranku selalu ada sepetak bunga di depannya, aku tidak mungkin membandingkannya dengan apa yang menonjol.

 

Bahkan secara obyektif, Tsugumi cantik. Tapi jika kau memintaku untuk menjelaskan mengapa “tidak ada orang lain yang secantik dia” walaupun ada banyak gadis lain, aku akan tersesat.

Sebenarnya, sulit untuk membicarakan apa yang memikatmu dalam diri seseorang. Jauh lebih mudah untuk berbicara tentang seseorang yang tidak kau sukai.

 

Ini menjijikkan, tapi aku tidak akan berbohong: Aku hanya menyalin foto Tsugumi dari buku tahunan SMP-ku dan membawa fotonya bersamaku setiap saat.

Dan aku akan melihat mereka dan membayangkan seperti apa rasanya jika dia berada di sana bersamaku sekarang.

Kau akan berpikir itu akan membuatku kesepian, tapi bagiku gadis di foto itu berbeda dari orang yang sekarang ada.

Seperti simbol kebahagiaan dari kehidupan pertamaku.

 

Kali inikali ini, aku ingin kesempatan untuk memulai hidupku.

Itulah yang aku pikirkan. Kali ini aku akan melakukannya dengan benar.

 

Aku kembali ke apartemen, tenggelam ke tempat tidur, memejamkan mata, dan berdoa semalaman.

Berdoa saat aku terbangun, aku akan mendapat kesempatan ketiga.

[1] Artinya, Tuhan tidak akan menguji hambanya yang tidak bisa dia selesaikan tanpa bantuan-Nya.

[2] Messiah/mesias biasa diartikan “yang ditunggu” atau “juru selamat”

[3] Perasaan dan ketakutan seseorang adalah objek permusuhan atau perlakuan buruk pada orang lain.

[4] Seseorang seharusnya tidak mengkrik seseorang dari kesalahan yang mereka juga lakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: